Mesum.Online

Mesum.Online

Aduhhh... Pelan-Pelan Dong Mas

 Aduhhh... Pelan-Pelan Dong Mas

MESUM.online - Saat aku masih menjadi mahasiswa di PTS di Jogja dimana aku lebih memilih untuk mengontrak rumah ketimbang tinggal di rumah sendiri, walaupun ayahku menyuruh aku untuk membeli salah satu rumah kecil yang di dekat kampus tapi aku ogah, walupun ayahku adalah seorang pejabat di Jakarta. Oya perkenalkan namaku Rudi.

Kisahku terjadi saat masa liburan kuliah setelah ujian akhir semester. Semua teman2 sekontrakanku berasal dari kota2 di sekitar Jogja. Seperti, Klaten, Solo, Magelang. Jadi, liburan seperti ini mereka pasti pulang ke kota masing2. Hasilnya, aku sendirian saja di kontrakan.

Tapi kesendirianku terobati karena dikontrakan ini kami memasang akses internet, jadi aku bisa browsing, mencari informasi2 di internet. Atau bisa chatting, sapa tau ada cewek yang bisa menemaniku. Setelah beberapa lama browsing, aku menemukan satu forum yang membahas tentang tempat2 ‘underground’ di wilayah Jogja.

Setelah kubaca satu per satu obrolan2 mereka di forum itu, aku tertarik dengan pembahasan tentang satu tempat karaoke yang menyediakan cewek2 untuk menemani karaokean. Dan tak jarang, cewek2nya bisa diajak ml di dalam ruang karaoke.

“Wah, boleh dicoba nih”, pikirku. Setelah selesai membaca semua obrolan tentang tempat karaoke itu, aku pun memantapkan tekad untuk mencoba kesana malam ini seorang diri. Pasang muka tembok aja. Lagian aku bayar juga toh. Aku pun bergegas mandi dan berpakaian sekeren mungkin serta tak lupa menyemprotkan parfum imporku. Kemudian aku naik ke honda Jazz ku dan langsung meluncur ke lokasi.

Kuparkirkan mobilku, kemudian aku berjalan menuju resepsionis.

“Mau karaoke mas?” Tanya resepsionisnya.

“iya mbak. Tarifnya berapa ya disini?” tanyaku.

“masnya sendirian ya? Kalau sendiri pake yg ukuran small aja mas……”, kemudian aku dijelaskan tentang harga2, paket2 dan fasilitas yg didapat. Kemudian aku memilih satu paket, dimana aku bisa mendapat 4 orang cewek untuk menemani, 1 botol Jack’D dan 3 jam karaoke.

Kemudian ada seorang cewek yg sedikit berumur, kutaksir umurnya sekitar 35 tahun. “Mari mas saya antarkan untuk pilih teman karaokenya”, kata cewek itu. Ternyata cewek itu seperti “mami”nya neh. Kemudian kami pergi meninggalkan resepsionis dan melewati sebuah bar, dan berhenti di sebuah lorong yg di dindingnya ada sebuah kaca satu arah.
Dan di dalamnya ada sebuah ruangan besar yang ada banyak cewek2 yg sedang duduk berderetan di kursi2 yg disusun sedemikian rupa, sehingga tamu2 dapat leluasa untuk memilih. Dan semuanya memakai gaun2 yang sangat menantang pria.

Roknya sangat pendek, sampai hampir celana dalamnya kelihatan kalau mereka membuka sedikit pahanya, berdada terbuka sampai memamerkan belahan tokednya, tanpa lengan semua jadi hanya seutas tali yang melingkari lehernya atau di pundaknya sehingga memamerkan lengan mereka yang mulus2

“Gile, pilih yang mana nih???”, pikirku.

Pilih…pilih..pilih… dan si mami juga memberikanku beberapa masukan tentang “anak2nya”. Akhirnya pilihanku jatuh pada 3 cewek yang kelihatannya sedang asyik ngobrol.

“kan jatahnya 4 cewek mas, kok Cuma pilih 3?”, tanya si mami.

“3 dulu aja mbak, tu aja udh kebanyakan. Aku kan Cuma sendiri” jawabku.

“Oya udh kalo gitu, tunggu sebentar ya”. Kemudian mami itu masuk ke pintu di sebelah kaca dan berteriak “ANDIN… CIKA… VENTY…”.

Sementara itu, aku dihampiri seorang waitress, “mari mas, saya antarkan ke room nya. Nanti teman karaokenya langsung ke room kok”, ajak pelayan itu. Kemudian kami berjalan menyusuri lorong panjang, dan disitu terdapat banyak room untuk berkaraoke.

Dan terdengar juga suara2 orang yg sedang berkaraoke disitu, walaupun hanya seperti berdebam. Akhirnya sampai di room pesenanku. Kemudian aku masuk dan pelayan itu meninggalkanku sendiri. Ada sofa panjang di 1 sisi ruangan dan didepannya ada sebuah meja, yg sudah terdapat 1 botol Jack’D, 1 pitcher cola, sekeranjang buah, dan 5 buah gelas.

Dan terdapat 1 layar monitor besar di sisi yang lain lengkap dengan sound system disampingnya serta tergantung di langit2 room.

“Ah tak ada salahnya aku siapkan dulu kesan pertama”, pikirku. Kemudian aku susun 4 gelas di atas meja, aku tuangkan Jack D dan cola di dalamnya, dan ku selipkan selembar uang seratus rubian di bawahnya.

Tak lama kemudian pintu terbuka dan masuk 3 cewek cantik yg kupilih tadi., yg langsung duduk di sebelahku. Kemudian kami berkenalan, yg pertama, “hai, namaku cika”. Cika punya wajah yg oriental, sepertinya org keturunan China gitu, dan wajahnya manis bgt.

Kulitnya putih bersih, bodinya langsing, tapi tak lebih tinggi dariku, ukuran bra sekitar 34B. Yang kedua,

“Aku Andin”. Yang ini facenya Jawa bgt, cantik, kulitnya putih, dan bra nya sekitar 36A. Yang ketiga,

“Venty”, yg ini favoritku, wajahnya seperti blasteran gitu, sangat cantik, dan tubuhnya sangat proporsional, dan branya sekitar 34B. Mereka semua memakai gaun yang jauh di atas lutuh sehingga sangat memamerkan kemulusan paha masing2 dan berdada rendah sehingga sangat jelas terlihat belahan dada mereka. Libido ku pun langsung naik, begitu juga penisku yang mulai berontak dibalik celana. Ingin rasanya kugarap mereka sekaligus. Tapi aku belum punya rencana.

“Ayo diminum dulu, sekaligus buat perkenalan. Aku Rudi. Kalian semua cantik2 ya.” Kataku pada mereka.

“Loh kok udah dituangin mas. Ini kan tugas kita” kata Cika.

“Ah gak papa. Ayo kita minum”, sembari mengangkat gelasku. Dan mereka pun mengangkat gelas masing2, dan kulihat mereka lsg menyambar uang yg kuselipkan tadi dan dimasukkan ke kantong masing2. Selesai minum, Vika bertanya,

“mau nyanyi apa nih mas?”. Setelah ngobrol2 sejenak dan memilih2 lagu, kemudian kami berkaraoke bersama2. 1 lagu… 2 lagu… 3 lagu… sambil menghabiskan minuman yang ada. Sudah hampir habis setengah botol lebih, gaya2 mereka terlihat semakin panas.

“wah mulai mabok neh mereka”, pikirku.

Goyangan2 mereka semakin erotis, dan tak jarang bergoyang ber2 bersama temannya, kadang mereka juga menari ber3 dan memperlihatkan tarian yang sangat memancing gairah. Sedangkan aku hanya duduk dan menikmatinya sambil mengamati keadaan mencari waktu yang tepat untuk bisa menggarap mereka, penisku juga bangun terus dari tadi.

“Tapi bisa gak ya?”, aku bertanya2 dalam hati.

Kemudian, mereka mulai memutar lagu2 dugem, dan aku ditarik oke Venty.

“ayo mas ikut jogged dong, jangan duduk aja”, ajak Venty sambil menarik lenganku. Kemudian kami berjoged berdua, Venty membelakangiku sambil menggoyang2kan pantatnya tepat didepan penisku. Aku pun ikut bergoyang sambil sedikit2 mendekat2kan penisku ke celananya.

“wah mas payah neh, segitu aja “dedek”nya udah bangun”, kata Venty. Aku kaget, ternyata Venty menyadari kalau penisku sudah menantang dari tadi.

“Abis kalian goyangnya seksi banget seh dari tadi”. Kemudian Cika bergabung bersama kami. Dia berjoged seksi di belakangku dan mengarah ke aku. Sesekali payudaranya mengenai punggungku, dan saat itu aku sengaja berjoged dengan gaya sedikit memundurkan punggungku. Kenyal baget tokednya ni cewek, dan tak ada tanda penolakan dari Cika.

Kemudian Andin datang dengan membawa minuman untuk kami, langsung kami minum habis. Andin sedikit tersenyum kearahku, tiba2 dia mengelus penisku yg seudah tegang dari luar jeansku, kemudian berbalik dan mengembalikan gelasku ke meja, kemudian bergabung berdansa.

“Wow, sepertinya 3 cewek ini memberi lampu hijau neh”, pikirku. Paling asal aku kasih duit lagi, mereka mau aku ajak sex party disini.

“Coba nekad aja lah” pikirku, sambil tetap berjoged, aku merogoh kantongku, mengambil 2 lembar seratus ribuan, kemudian kupeluk Venty dari belakang, dan memperlihatkan uang tersebut ke Venty dan goyangan pantatnya ternyata lebih erotis lagi di depan penisku.

Pelan2 kuelus uang itu di lehernya. Tak ada tanda penolakan, kemudian sedikit turun kebawah dan akhirnya kuselipkan masuk ke branya, sambil sedikit kusentuh tokednya.

“Mas horny ya?” tanya Venty sambil mengelus penisku dari luar.

“iya nih Ven, rasanya udah gak nyaman banget neh” jawabku.

“Gak nyaman gimana mas?”, tanyanya lagi

“Capek tegang terus dedekku, butuh pelampiasan kayanya”, jawabku mencoba to the point.

“bisa diatur kok mas”. Wow, berhasil nih.

“tapi dimana? Disini?”, tanyaku.

“Iya lah, disini aja, Aku mau kok. Paling Cika ama Andin juga mau, asal mas kasih mereka tip juga kaya aku tadi”, jawab Venty. Matre!!! Tapi gak masalah buatku.

Kulepaskan pelukanku lalu kurogoh lagi celana ku dan menyiapkan 2 lbr uang di tangan kiri dan 2 lbr di kanan. Lalu kudekati Cika dan Andin yg sedang berjoged. Kupeluk leher mereka berdua kemudian memamerkan uang yg sedang kupegang di depan mata mereka. Respon mereka langsung sumringah melihat lembaran uang merah yg kupegang, dan kumasukkan uang itu ke bra mereka. Cika mengelus penisku dari luar,

“wah, horny ya sama kita2?” tanya Cika.

“iya nih, kalian seksi2 seh. Mau bantuin aku gak?” tanyaku dengan sedikit berdebar2, “Mau banget mas..”, Andin yg menjawab sambil langsung memasukkan tangannya ke celanaku dan meremas penisku.

“ih, besar juga”, Andin sedikit terkejut. Ukuran penisku memang tergolong memuaskan untuk wanita, panjang 17cm diameter 4cm.

Tapi sebelum pesta dimulai, aku melihat botol minuman kami sudah habis.

“Eh, pesenin minuman lagi dong. Pesenin Galliano ya”, pintaku pada mereka. Kemudian Venty yg keluar sebentar untuk memesan. Sementara itu, Andin meredupkan lampu ruangan sehingga suasana menjadi agak gelap, dan tiba2 Andin menarikku ke kursi, mendudukkanku dan berjongkok didepanku. Dia langsung membuka resletingku, menurunkan celanaku sedikit dan mengeluarkan penisku.

Tanpa ba-bi-bu langsung djilatnya penisku yang sudah tegang sempurna. Sementara Cika tetap bernyanyi, untuk menyamarkan keadaan, supaya waitress2 diluar tak curiga, sambil melirik2 ke arah kegiatanku dan Andin.

Terlihat Andin sedikit susah memasukkan penisku ke mulutnya, karena ukuran penisku yang besar itu. Dia lebih sering menjilati kepalanya, batangnya, dan memasukkan penisku hanya sebahas kepalanya saja.

“ahhhh, hangat banget mulutmu sayang…..”, sambil tokednya tak luput kugenggam, kuelus2 dari luar gaunnya. Kemudian kugenggam dengan kedua tanganku rambut Andin di belakang kepalanya, agar aku bisa melihat jelas penisku dipermainkan Andin. Kudorong2 sedkiti penisku saat dia memasukkan penisku ke melalui bibir mungilnya itu,

“mmhhh….mmhhh….” suara yg keluar dari mulut Andin. Kemudian dia mengeluarkan kontolku, dijilati kepalanya, sambil mengocok2 penisku.

“Jangan didorong2 gitu dong mas. Gede banget nih. Gak cukup mulut Andin”, protes Andin.

“Iya..iya… maaf ya cantik”, kataku sambil mengelus pipinya, sementara tangannya masih mengocok penisku.

Tiba2 pintu room terbuka dan Venty masuk. Aku segera membetulkan celanaku, dan Andin langsung berdiri dan bergabung karaokean sama Cika. Aku kemudian berdiri dan bergabung bersama mereka.

“Sekarang giliran sapa?” tanya Venty kepada teman2nya.

“Barusan guwe, sekarang terserah mau lo ato Cika duluan”, jawab Andin.

“GILA. Aku digilir coy.

“Aku duluan aja gimana?” kata Cika.

“Ya udah gak papa”, jawab Venty.

Sekitar 15 menit kemudian, minuman datang, dan pelayan kembali meninggalkan kami.

“Disini ada kameranya gak sih?” tanyaku.

“Gak ada kok mas. Tenang aja. Cuma ada 1 waitress yg pasti stand by didepan pintu”. Pintu room itu memang ada sedikit kacanya, untuk pelayan diluar pintu memastikan tamu2 yang sangat kurang ajar atau mencegah tindakan mesum di dalam room.

“wah, terus gimana dong?”, tanyaku pada mereka.

“Tenang aja mas. Pokoknya mas pasti puas deh”, kata Andin meyakinkanku. “Pokoknya ikutin aja instruksi kita. Aman deh”. Kemudian Cika pergi ke meja dan menuangkan minuman ke 4 gelas. Dan membawa 1 gelas ke aku, langsung kehabiskan minumanku.

Kemudian Cika menarikku ke pojok kursi, menjauhi pintu room. Sama seperti Andin tadi, dia menyuruhku duduk dan berjongkok didepanku. Menurunkan jeansku sampai setengah paha. Kemudian langsung mengulum penisku. Dijilatinya dengan telaten setiap centi penisku.

“Sssshhhhhhhh…. Enak banget sayang…..”, aku memujinya dan Cika hanya tersenyum.

Cewek keturunan China emang terkenal telaten waktu mengoral. Kemudian dia kelihatan membuka branya dan dimasukkan ke kantongnya, tapi dia tetap memakai gaun. Jilatannya turun kearah biji penisku.

Disedot2 telur2nya, dijilati, kemudian dicium2inya. Kemudian dia kembali mengulum penisku. Tanganku mulai bergerilya. Kuremas2 tokednya yg pas di telapak tanganku, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Tanganku menyusup kedalam gaunnya, kupelintir2 pentilnya yang sedikit demi sedikit mulai mengeras.

“mmhhhh…mhhhh….mmppphhh……”, Cika mendesah2 tak karuan. Aku merogoh kantongku lagi sambil berbisik ke Cika,

“Say, kalo ml berani gak?”. Dia mengangkat kepalanya dan mencium bibirku, melumat bibirku dan memasukkan lidahnya ke mulutku. Kubalas dengan memutar2 lidahku berpautan dengan lidahnya di dalam mulutku. Kemudian melepaskan ciumannya, melirik kearah tanganku dan berkata,

“Boleh”. Yessss….

Aku mengeluarkan tanganku dari kantong sambil mengeluarkan selembar uang merah, dan memasukkannya ke kantong Cika.

“Tapi berdiri ya mas. Dideket mereka”, sambil menunjuk kearah Andin dan Venty yg sedang bernyanyi sambil berjoged.

“Supaya samar mas. Kalo sekilas keliatan dari luar kan kita lagi karaokean rame2”. Gak masalah buatku. Kemudian Cika berdiri dan melepas celana dalamnya, dan kami berjalan kearah Andin dan Venty yg sedang bernyanyi.

Cika seolah berbisik sebentar dengan kedua temannya. Kemudian Andin merangkul leher Venty dan kembali bernyanyi lagi. Seolah mereka menutup2i dari pandangan waitress dari luar pintu room tentang kegiatan kita ini. Lalu Cika mengajakku berdansa, dan menari erotis didepanku. Sambil sesekali kuremas toket Andin yang sedang bernyanyi.

Kemudian kupeluk Cika saat menghadapku. Kucium bibirnya yang tipis, kusedot2 lidahnya, kumasukkan lidahku ke mulutnya dan menyusuri setiap sudut mulutnya. Kuturunkan gaunnya di bagian dada sehingga terlihat jelas tokednya yang indah.

Tangan kananku meremas2 tokednya, sementara tangan kiriku memainkan memeknya, kuelus2 clitorisnya, yang menimbulkan erangan2 dari mulutnya sembari berciuman denganku. Aku melepaskan ciumanku dan mengulum2 pentil tokednya yang berwarna pink.

Kemudian aku berjongkok didepan Cika, dia mengangkat satu kakinya ke pundakku, sehingga aku dapat melihat jelas memeknya yang ditumbuhi bulu2 halus disekitarnya. Aku menjilati clitorisnya, memasuk2an lidahku ke dalam memeknya.

“Sssshhhhhh…. Mmmmmhhhhhh…… sssssssshhhhhhhhh…..”, dia mendesah2 nikmat.

Cika memegangi kepalaku dan sedikit menekan2 kepalaku seolah ingin aku berlama2 mengoral memeknya. Sekitar 10 menit aku puas memainkan memeknya.

Aku pun berdiri, menurunkan celanaku setengah paha, dan nongol deh penisku yang sudah super tegang, dan membalik tubuh Cika sehingga dia membelakangiku. Dia sedikit melebarkan kakinya dan membungku ke depan.

Dia mengarahkan kontolku kearah memeknya. Digesek2an penisku di memeknya. Dan memberikan air liurnya dengan tangannya ke kepala penisku. Sambil memegang 2 tokednya dari belakang, kudorong kontolku yang sudah tepat di bibir memeknya. Masuk kepalanya, Cika kelihatan sedikit menahan tubuhku dan sedikit memekik.

“aww….sshhhhh… pelan mas. Gede banget….”.

“Memekmu sempit banget say…”. Kemudian kudorong lagi penisku semakin dalam ke memeknya Cika, sambil kadang kutarik sebentar penisku dari dalam memeknya.
“mmhhhhh….sssshhhh….sshhh…. aahhhhhhhhhh”, desahan Cika mulai tak karuan.

Setelah penisku masuk seluruhnya, mulai kugenjot pelan2 memeknya. Dan Cika mengimbangi dengan ikut memutar2 pantatnya, dan kurasakan sensasi yang luar biasa. Makin lama makin cepat kugenkot,

“ahh..ah…ahh…ahh…lebih…. ceppet… maasss… masukin… ampe… mentok….”. Kupercepat irama goyanganku, dan Cika bisa mengimbanginya. Kudekap tubuh Cika, kuremas2 tokednya sambil kujilati lehernya, dan penisku tetap mengocok memeknya. “ahh..ah..enak banget memekmu sayang….”.

“teruss mas…teruss… aku mau keluar… mas.. mas.. ahhhhh… ssssssshhhhhh….”.

“Aaaaaahhhhhhhhhhhhhhh… aaarrrrggggggg………….”

Tubuhnya sedikit bergetar dalam pelukanku sambil mendesah2 tak karuan menahan orgasmenya. Kuperlambat goyanganku menjadi sangat lambat. Sambil kuraih bibirnya, kukulum2 lidahnya, tanganku tetap meremas2 tokednya, dan kontolku masih menggoyang memeknya dengan tempo yang sangat lambat.

Kurogoh lagi kantong celanaku, kuambil selembar uang merah. Kemudian Venty membawakanku segelas minuman. Kuminum minuman itu dengan posisi kontolku masih menancap di memek Cika. Cika pun sedikit memutar2 pantatnya dan menjepit2 dinding memeknya sehingga penisku serasa diputar2 sambil dipijit2. Setelah menaruh gelas di meja, Venty kembali dan kutarik lengannya. Kumasukkan lembaran uang yang kupegang tadi ke kantong celananya.

“Sekarang kamu ya sayang..”, kamu membisikkan Venty. Venty menganggukkan kepalanya sambil tersenyum genit kepadaku.

“Di sofa yuk mas”, bisiknya sambil menjilat telingaku. Aku mencabut penisku dari memek Cika dan berjalan mengikuti Venty ke pojok sofa tempat tadi aku dioral Cika. Sementara Cika sekarang yang mengambil alih tugas Venty berjaga dan menutup2i kami. Aku langsung duduk dan Venty langsung mengangkat bajuku sehingga terlihat dadaku yang bisa dibilang sedikit atletis.diciumi dadaku, dikulum2 putting susuku dengan lembut dan telaten.

Tangannya sambil mengocok lembut penisku yang memang belum kututup. Kemudian jilatannya turun ke perutku dan berakhir didepan penisku yang masih sedikit basah oleh cairan memek Cika. Dikulum2nya tanpa rasa jijik, sambil matanya menatapku dan tersenyum2 genit.

Dijilati kepala penisku, disedot2… Kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya. Diantara 3 cewek ini, Cuma Venty yang bisa deep throat. Dimasukkannya penisku sampai hampir lebih dari setengahnya masuk ke dalam mulutnya. Aku pun sambil menggerakan sedikit pinggulnya, sehingga terlihat aku sedang mengentot mulutnya.

Puas mengoralku, dia pun berdiri dan langsung menaikiku, mengangkat roknya dan terlihat g-stringnya. Dia meminggirkan talinya ke samping dan mengarahkan memeknya ke penisku.
Digesek2an penisku di memeknya. Dimasukkan pelan2 penisku ke dalam memeknya, sambil digoyang2kan naik turun. “sshhhh….mmmm…..”

mulutnya mulaih mendesah . Kuremas2 tokednya yang menantang di depan mataku. Kuturunkan gaunnya lalu kujilati putingnya.

“ahhh…ahhh..ahhh… enak mas….”.

Sudah setengah penisku masuk, tiba2 kudorong penisku sampai masuk semuanya ke memeknya.
“aww…aw…. Pelan mas… agak sakit… gede seh punya mas…”, protesnya.

“Iya maaf sayang. Tapi enak kan?”, tanyaku

Dia mengangguk dan tersenyum.

Kemudian dia mulai bergerak naik turun, dan kuimbangi dengan ikut menggoyangkan pantatku. Kucium bibirnya yang tipis, kumainkan lidahku melawan lidahnya. Tanganku tetap meremas2 tokednya yang kenyal banget, sambil kupercepat irama goyangan pantatku.

Plok….plok…plok…..plok…. pantatnya beradu dengan pahaku.

“mmpphhh….mpphhh….mmmppphhh….. ” desahannya didalam cimuan.

10 menit kupompa penisku dalam memeknya, tiba2 dia melepaskan ciuman dan pelukanku lalu menegakkan badannya. Sambil tetap bergerak naik turun seolah ingin memuaskan dirinya sendiri memainkan penisku dalam memeknya. Dia mulai meremas2 sendiri tokednya yang padat, serta mengibas2kan rambutnya, dan Venty terlihat menggigit bibirnya sendiri seperti menahan kenikmatan.

“ahh… ahh…ahh… ahh… mmhhh… mmhhh….”, mulutnya meracau tak karuan.

Aku pun hanya duduk dan menikmati penisku yang dipijat2 oleh memek Venty, dan memandang Venty yang bergerak naik turun diatas penisku sambil bergoyang erotis.

“Kuat juga ni cewek. Keliatannya masih belum keluar”, pikirku dalam hati.

Tak lama kemudian Andin datang dan duduk disebelahku. Dia menyodorkan gelas berisi minuman.
“Lawaran ya mas. Berani gak?”, tanya Andin

“Wessss… sapa takut. Sini”, langsung kuambil gelas yang diberikan Andin, dan kutegak minumanku. Shitt….. Tenggorokanku langsung terbakar rasanya. Dadaku juga panas. Birahiku juga ikut terbakar setelah menenggak minuman itu.

Langsung kutarik tubuh Andin mendekatiku, kuturunkan gaunnya dan langsung kuciumi tokednya, kujilat2 dan kusedot2 putingnya dan kuremas2 tokednya yang lain.

Sementara itu, Venty masih memainkan penisku di memeknya, dia bergerak naik turun, memutar2 pantatnya.

Sungguh sensasi yang luar biasa saat itu.

“Ssshhhh… sssshhh…. Ssshhh…..”, Andin rupanya menikmati permainan lidahku di tokednya, dia sedikit menaikkan badannya agar tokednya pas berada di depan wajahku, serta memeluk kepalaku, dan aku bisa leluasa memainkan tokednya yang indah.

Tanganku turun menyibak rok gaunnya, dan mulai menyentuh memeknya. Ternyata celana dalamnya sudah dilepas, sehingga tanganku bisa leluasa memainkan klitorisnya. Kugesek2an tanganku, sambil kadang2 kumasukkan sedikit jariku ke memeknya.

“ahhhhh.. mmmhhh…. Ahhh… mmmhhhh…. Sshhhhhh”, Andin mendesah2 menikmati permainanku.
“Sekarang ama kamu ya say”, aku membisikkan Andin. Dia mengangguk.

“Ven, gantian dong”, dia berkata pada Venty.

“Wah, padahal belum keluar neh. Tapi ya udah deh, ntar lagi. Memekku pegel neh. Kontolnya gede say”, kata Venty yang kemudian mengecup bibirku sambil melepas penisku dari memeknya. Kemudian dia berjalan ke arah Cika dan bergabung karaokean bersama Cika.

“Say, doggy style yuk. Kamu berlutut di bawah, hadep kursi”, pintaku kepada Andin, aku pun ingin pegang kendali disini, gak cuma ikut instruksi mereka, tapi tetap mengutamakan keamanan. Daripada digrebek disini…?

Andin pun langsung mengiyakan dengan turun kebawah dan nungging menghadap sofa, sedangkan aku langsung bersiap2 di belakangnya.

Kunaikkan roknya, dan kugesek2an penisku di bibir memeknya.

“Mmmmmhhh……..”, Andin pun ikut mengerakkan pantatnya seiring gesekan2 penisku. Kemudian ku genggam pantatnya dan mulai kudorong masuk pelan2 penisku. Tidak terlalu susah, karena penisku sudah basah oleh cairan memek Venty, dan memek Andin pun sudah basah banget karena permainanku tadi.

Seperempat penisku sudah masuk ke memeknya. Dan aku menghentikan gerakanku.

“Oouuuhhhh…. Mmmmhhhhh……..”, Andin mendesah sambil menggerakkan maju pantatnya, kemudian dimundurkan lagi. Pelaannn… pelaannnn…. Sampai akhirnya semua penisku masuk ke memeknya karena gerakan Andin sendiri.

Andin mempercepat gerakannya. Akupun hanya diam dan merasakan penisku dipijit2 memek Andin, sambil meremas2 tokednya yang menggantung2 dan bergoyang2 seiring gerakannya.

“Aww…awww…. Ohh…ohhh…. Mmmmhhh…mmhhh…ssssssshhhhhhh hhhhhh…” mulutnya meracau tak karuan. Aku mendekap Andin sambil menjilat2 telinganya, dan gerakannya menjadi semakin liar.

“Ahhhh… enak banget memekmu sayang…. oouuuhhhhh…. Anget….”, bisikku ditelinganya.

“iya mas… ahhhh… ahhhh…. ****** mas juga…. Eennaakkkk…. Oouuhhh….”, dia membalas pujianku.

5 menit dia menggoyangku, aku pung kembali tegap dan meremas pantanya dengan kedua tanganku, dan menghentikan goyangannya. Sekarang aku yang ingin pegang kendali. Kugerakkan pinggulku, penisku menyodok2 memeknya, semakin cepat… cepat… cepat…

“Ahh… ahhh…. Ahhh… ahhh.. teruss… terus…. Teruss… ampe… mentok…. Mas…..”, dia meminta untuk dipuaskan penisku.

Aku pun semakin mempercepat goyangan ku, dan sesekali menghentakkan kontolku masuk ke memeknya.

“Aawwww….aawww…..enak mas… enakk…..”

“Memekmu juga mantep Ndin…”, pujiku

10 menit aku mengobok2 memek Andin sampai akhirnya dia kelihatan memekik dan menggenggam pahaku seolah memintaku untuk menghentikan sejenak goyanganku.

“Aaawwwww….. Oouuuuhhhh…..aku keluar…… masss….. ooohhhhhhh…. Stop dulu….
Masss…….oohhhhhh…….”, kepalanya terlihat ambruk ke sofa sambil terlihat menggigit2 bibirnya menaham kenikmatan.

Tapi aku tidak menghentikan goyanganku. Tetap kugerakkan penisku, meskipun tidak secepat tadi.
“Aaahhhh… mas….. nakal….. ihhh…..”.

Kulepaskan penisku dari memeknya kemudian berdiri. Posisi Andin tetap menungging di depan sofa, sedangkan aku menaikkan satu kakiku ke atas sofa dan menurukan sedikit badanku, menyodorkan penisku ke mulutnya. langsung disambut penisku yang sudah didepan mulutnya.

“Mmmmhhhh… mmppphhhhh….mmmmm…..”, dikulum2nya penisku. Dimainkan lidahnya dalam mulutnya saat penisku masuk ke dalam mulutnya. tak ada rasa jijik yang terlihat dari raut mukanya.

“Aahhhhh…….. enak banget say”, aku terus memujinya. Dia mengeluarkan penisnya dan menjilati kepalanya sambil matanya melirik ke arahku, sambil tersenyum.

Aku merogoh kantongku lagi dan memasukkan selembar uang merah ke kantongnya.

Aku bangkit ke arah Venty dan Cika yang sedang asyik karaokean berdua. Kutarik Venty dan langsung kulumat bibirnya. Kita berciuman mesra sambil kuremas2 tokednya. Cika menyodorkan mike karaoke ke Andin.

Andin langsung mengambil mike itu dan langsung melanjutkan nyanyian Cika sebelumnya. Kemudian cika berjongkok didepanku dan langsung memasukkan penisku yang memang belum kutup lagi ke dalam mulutnya.

Kupegang kepala Cika dan kugerakkan sedikit pantatku maju mundur, ingin mengentot mulut Cika. Cika pun menyambut dengan ikut menggerakkan kepalanya, dan memainkan penisku dengan panasnya. Semantara itu, Venty melepaskan ciumannya dan menarik kepalaku ke arah tokednya. Kusambut tokednya yang kenyal itu, kusedot2 dan kukulum2 putingnya.

“Ssshhhh….. aahhh….. mas ini kuat banget seh ml nya…..”, puji Venty.

“Yah gimana ya, lagi hot banget seh ne. Kan sayang kalo cepet2 keluar. Tar kalian gak puas lagi ama aku”, jawabku yg kemudian kembali menjilat2i pentilnya.

“Iya nih mas, malah kita ber3 yang kewalahan”, kata Cika sambil mengocok2 halus penisku.

Aku pun hanya tersenyum ke arahnya dan kembali menarik kepala agar memasukkan lagi penisku melalui bibir tipisnya itu. Cika pun kembali mengulum2 penisku dengan panasnya. Diputar2 kepalanya agar memberikan sensasi yang berbeda di penisku.

Kemudian Venty ikut berjongkok didepanku. Mereka berdua saling bergantian mengulum2 penisku. Gila…nikmat banget dioralin 2 cewek kaya gini.

“Aaaahhhhhh enak sayangg……..”, kataku sedikit berteriak.

Venty mengulum penisku, dimasukkan sedalam2nya penisku kedalam mulutnya, kemudian dihisap2nya lagi. Sementara itu Cika menjilat2ti biji penisku, disedot2 telornya. Wah sungguh kenikmatan yang tiada tara saat itu.

Setelah beberapa saat, kutarik Venty, kusuruh dia bersandar di tembok. Kuangkat 1 kakinya. Dengan gaya berdiri, kuarahkan penisku ke memeknya, dengan 1 hentakan penisku langsung masuk ke memeknya.

“Aaawww…. Oohhhhh….. mentokk… mass……”

Kegerakkan pantatku, langsung ke tempo cepat. Birahiku sudah diubun2 dan sudah ingin kukeluarkan pejuhku. Kusodok2 memek Venty. Venty menggigit bibirnya, dan tangannya mengelus2 tembok disamping2nya tak karuan, tangan yg satu meremas2 tokednya sendiri.

“Ahhh…ah… ahh…ahhh.. ahhh…. Hhhhhhh……. Mmmmmmmhhhhh……”, dia mendesah tak karuan.

Cika menghampiriku dan menuangkan pelan minuman di gelas yang dia bawakan. Shit… ternyata lawaran lagi. Dadaku langsung panas. Kemudian menarik kepalaku ke arah tokednya, dan langsung ku sedot2 putingnya, sambil tetap menggenjot Venty.

Tak lama, Cika pun kembali berkaraoke bersama Andin. Kufokuskan permainanku ke Venty. Sekarang dia memelukku, dan mencium bibirku, memainkan lidahnya didalam mulutku, menyapu setiap rongga mulutku. Sesekali kuhentakkan penisku masuk ke memeknya dengan sedikit keras.

“Mmmpppphhh….. mmmmppppphhhhh……”, dia mengerang dalam ciumannya.

Venty melepas ciumannya dan mendesah2 tak karuan.

“Aahhhh…. Aahhhh….. mas…. Masss…… ssshhhhhhhhhhh…….. oohhhhhh…..”
Tak lama kemudian, dia memelukku dengan erat dan menggigit samping leherku sambil sedikit mengerang dan badannya sedikit bergetar.

“Aaaaahhhhhhhhhhhhh…….. mmmmmppppppphhhhhhhh………. Aawwwhhhhhhhh……..”, dia mengerang2

“Aku….. Keluarrr….. mass……. Ooouuuuhhhhhhhhhh………….”, Venty mencapai orgasmenya.
“Hhhhhhhhhh….. enak banget memekmu say”, aku memujinya

Kupelankan gerakanku, sambil meremas2 tokednya, dan sesekali mencium putingnya. Ekspresi Venty saat itu, sambil memejamkan matanya dia menggigit bibirnya sambil tersenyum seolah menikmati orgasmenya, dan memegang kepalaku ingin aku terus memainkan putingnya. Aku pun tetap menggerakkan penisku dengan pelan, dan merasakan ada cairan yang mengalir keluar dari memeknya. Hangat rasanya.

Setelah berhasil membuat orgasme 3 cewek ini, aku mencabut penisku dari memek Venty, dan berjalan menghampiri Cika. Cika tetap mengarah ke monitor di depan ruangan. Aku melirik ke arah pintu, dan melihat tidak ada waitress yang stand by disitu.

Biraku sudah diubun2, pejuhku serasa berontak ingin segera dikeluarkan dari penampungannya, langsung saja kuangkat rok Cika, dia pun merespon sambil melebarkan sedikit kakinya dan agak membungkuk ke depan.

Langsung ketancapkan penisku ke memeknya yang sudah basah. Penisku langsung masuk seluruhnya, seolah ditelan memeknya. Langsung kegerakkan pantatku, dan Cika pun mengimbangi gerakanku. Kupercepat gerakanku, sambil kuremas2 toked Andin yang sedang bernyanyi disebelahnya, dan tangaku yang satu meremas toked Cika.

“Aahhh… ahhh….ahhh… hhhhhh…. Ooohhhhh….”, Cika mendesah2 kenikmatan.

“Iyaa… iyaa…. Memekmu juga…. Enak… hhhh…. Hhhh….”, aku menggenjot memek Cika dengan tempo yang cepat.

15 menit kemudian aku merasakan pejuhku sudah mau keluar. Kudekap Cika, menjilati telinganya, dan tetap kugoyang pinggulku tanpa mengurangi temponya.

“Akkuuuu… hammmpir… kkelluarrr sayy…….”, bisikku ke Cika.

“Iya masss…. Iyaa….. jgn.. di dalem….. masss….. oohhhhh…… mentok….. rasanya….. sssshhhh…. Ssshhhhh……”

“Keluarin dimulutku aja mas”, Andin tiba2 membisikkanku sambil menjilat telingaku.
Dan dia sudah berjongkok di sampingku, menggulung rambutnya ke belakang, dan bersiap menerima pejuhku.

Penisku sudah berdenyut2, dan kuhentak keras memek Cika.

“Aaawww….. aawwwww…….”, Cika sedikit berteriak.

Dan langsung kulepaskan penisku dari memek Cika, dan langsung kuarahkan ke mulut Andin yang sudah bersiap di sebelahku. Langsung dimasukkan penisku ke mulutnya dan dikulum2.

“Sayy.. sayyyy… aaarrrggghhhhhh….. ooohhhhhhhhhhh………”, pejuhku keluar di dalam mulut Andin yang mungil. Andin sedikit kaget pejuhku keluar begitu banyak di dalam mulutnya dan terlihat sedikit pajuhku mengalir keluar dari sudut bibirnya.

“hhhhhh…. Hhhh…. Hhhh….”, Andin terlihat asik mengulum2 penisku sementara pejuhku masih di dalam mulutnya. Kemudian dia melepas penisku dan menelan semua pejuhku. Dia mengumpulkan pejuh2 yang sempat keluar dari mulutnya dengan jarinya, dan memasukkan jarinya ke dalam mulutnya, seolah tak ingin ada pejuh yang tersisa.

Tiba2 Cika ikut jongkok di depan penisku dan langsung mengulum penisku, membersihkan sisa2 pejuh di kepala penisku. Menjilati setiap centi penisku, seolah ingin kebagian pejuhku juga. Setelah puas mengoralku, dia bangkit dan berjalan ke sofa.

Aku pun mengenakan jeansku lagi dan duduk di sofa. Masih terengah2 karena pesta seks barusan, aku mengambil segelas berisi minuman di meja dan langsung menegaknya. Dan menyandarkan badanku ke sofa. Mereka bertiga juga ikut duduk di sofa, sambil tetap bernyanyi.

“Mas kuat banget ya. 2 jam full ml nya. Kita bertiga dibuat puas pula. Kalo Cuma maen berdua ama mas, bisa lemes dong”, celetuk Andin.

“Ah bisa aja kamu. Gak segitunya kali.”, jawabku.

“Kapan2 maen kesini lagi ya mas”, Venty berbisik sambil mengelus penisku dari luar.

Aku Cuma mengangguk dan tersenyum.

Setelah terasa puas, aku minta mereka untuk minta bill ke waitress nya.

“Kan masih kurang setengah jam lagi mas”, tanya Venty

“Udah cukup deh. Aku udah capek banget nih. Mau istirahat dulu. Kapan2 kita lanjutin lagi. Okey…..”, jawabku.

“Okayy……”, mereka serempak menjawab.

Mereka bertiga memakai bra dan celana dalam masing2, dan merapikan gaun dan rambut mereka yang sedikit acak2an.

Kemudian Andin keluar memanggil waitress. Setelah beberapa lama, waitress datang membawa bill. Aku selesaikan masalah pembayaran dan keluar dari room. Mereka ber3 mengantarku sampai ke parkiran.

Sambil berjalan, tak lupa aku tukeran no hp mereka. Dan sebelum masuk mobil, tak lupa kucium bibir mereka satu per satu dan memberikan selembar lagi uang merah kepada mereka masing2. Kulihat tukang parkir disitu hanya tersenyum dan geleng2 kepala. Lalu kunaik mobilku dan langsung pulang ke kontrakanku, Sungguh malam yang menyenangkan.

THE END

Namaku Ita: Selalu Ceria Tapi Liar

Namaku Ita: Selalu Ceria Tapi Liar
MESUM.online - Aku sudah mengenal Ita sejak kita dibangku SMP dia sekarang sudah berumur 24 tahun karena dia sering makan tidur maka berat badannya naik tidak seperti yang dulu dia mempunyai badan yang ramping dan padat, walaupun begitu dia masih enjoy dengan berat badannya dia percaya diri dengan senyumannya yang khas dan selalu ceria berbeda dengan temannya yang bernama Ria.

Di samping itu, Ita sangat tangguh dalam mengejar berat badan ideal. Karena itu, aku sempat sangat terkejut menemukan Ita yang langsing.. hanya 49 kg! Sebuah usaha yang patut mendapatkan penghormatan dariku.

Karena sifatnya yang mudah bergaul plus wajahnya yang cantik, sejak SMP Ita sudah mengenal pacaran. Sampai kemudian di SMU, kami satu sekolah juga. Jumlah cowok yang mengisi hari-hari Ita semakin banyak. Naik kelas 2 SMU, kami satu kelas. Karena aku dianugerahi IQ yang tinggi (151), pelajaran yang oleh sebagian besar teman-temanku sulit dicerna terasa mudah bagiku.

Karena itu tak heran jika PR-ku sering dicontek teman-temanku. Aku memang dengan bebas mempersilakan siapa pun belajar dariku, kecuali waktu test. Teman-temanku sering mengganti istilah ‘menyontek’ dengan ‘belajar waktu test’. Ada-ada saja. Tetapi aku agak ‘pelit’ untuk yang satu ini.

Ita adalah salah satu teman wanita yang minat dan kemampuannya kurang di pelajaran eksak. Karena rumahnya tidak jauh dari rumahku, maka Ita adalah salah satu teman yang paling rajin ke rumahku. Keluarga kami saling mengenal dengan baik. Jadi kehadiran Ita di rumahku sudah seperti keluarga sendiri. Ita bebas keluar masuk rumahku, kecuali keluar masuk kamar tidur tentunya.

Bahkan sampai kuliah, walaupun berbeda jurusan, kami tetap satu universitas. Ita semakin modis dan cantik. Rambutnya disemir kecoklatan plus ion dengan busana yang mengikuti trend. Benar-benar tipikal gadis yang mengikuti perkembangan jaman. Waktu itu aku ingat Ita baru putus dari pacarnya sebulan yang lalu.

Aku tahu karena aku beberapa kali menjadi teman curhatnya. Suatu sore, Ita meneleponku.

“Boy.., gue ditembak Yudha kemaren.. Wuih.. Gak nyangka anak kuper begitu seleranya tinggi amat..” cerocos Ita cerewet.

“Hah? Maksud lo.. Anak yang suka ama lo berarti seleranya tinggi. Gitu?” tanyaku keheranan dengan kepercayaan dirinya. Over confident nggak ya, kira-kira?

“Lha iya, lah! Gue kan cantik, baek, sexy, lembut dan bersahaja..”

“Hehe..” aku tertawa.

“Lho.. Kok diketawain? Bener kan, Boy?” Ita nggak terima ditertawakan.

“Hm.. Iya deh, Ita memang cantik dan sexy. Baik juga ama Boy. Tapi kalo lembut.. Hmm.. Gimana ya.. Agak kurang pas deh..”

“Waah, ngeledek lo! Aku kan lembut..!!”

“Apanya yang lembut, Ita?” tanyaku pelan sambil agak berbisik.

“Ada deh.. Boy mau tahu aja..!” jawab Ita membuatku bertanya-tanya.

Aku yang tadinya tidak berpikir macam-macam ?alias murni bercanda-, sekarang jadi curiga.

“Ya boleh dong Boy dikasih tahu kelembutannya Ita..” jawabku makin berbisik.

“Hii.. Merinding aku dengar suaramu!” kata Ita agak keras. Kami tertawa bersama.

“Tapi aku nggak naksir Yudha, Boy..” kata ita kemudian.

“Oh.. Pasti naksir Boy, kan?” godaku. Kalau betul, wah, lumayan.

“Yee, GR! Pengen laku yah?” ledek Ita.

Waduh.. Kok sepertinya aku jelek sekali sampai Ita bicara seperti itu. Tapi emang sih aku masih jomblo..

“Trus naksir siapa, Ita? Kamu boleh cerita ama aku kalau kamu mau..”

“Hm.. Itu, si Hendra. Anak angkatan atas.. Dia cakep, bodynya keren.. Sexy! Dan bibirnya.. Ugh.. Pengen kucium sepuasnya!” Ita mulai ceriwis.

Dia tidak sadar aku mendengarkannya dengan terkejut. Wah.. Anak ini.. Tapi memang sasaran Ita si Hendra anaknya cakep.

“Lho, Ita.. Aku kan tingginya nggak beda jauh ama Hendra? Body-ku juga pas kan? Bibirku juga sexy. Kenapa lebih memilih Hendra?” godaku lebih jauh. Aku tiba-tiba ingin tahu posisiku di matanya. Padahal.. Aku sama sekali tidak menyukai si Ita.

“Tau ah! Pokoknya Hendra! Gimana Boy.. Aku mau kirim surat ke Hendra nih!”

“Ya.. Terserah lo aja, Ita. Mau kirim surat ya kirim aja. Lo kan pede orangnya. Masa ginian aja nanya ke aku?” jawabku sekenanya.

Besok siangnya, sepulang kuliah aku santai di ruang keluarga. Papa mamaku belum pulang kerja. Adik-adikku sedang tidur siang. Pembantuku juga tidur mungkin. Aku sedang mengotak-atik komputer saat itu.

Seingatku waktu itu aku sedang membuat mini games dengan Turbo Pascal. Kudengar pintu pagar terbuka disusul suara anjingku yang menggonggong menyambut tamu yang rupanya sudah dikenalnya. Ita.

“Hai Boy.. Lagi ngapain?” Ita segera duduk di sofa sambil melihat ke komputerku.

“Lagi nyoba bikin semacam game petualangan. Tokohnya seekor anjing yang berusaha mengumpulkan benda-benda untuk menyelamatkan anak-anaknya yang diculik penjahat.”

“Hm.. Ngeganggu ya? Aku mau curhat boleh?” Tanya Ita.

Tentu saja boleh. Game computer bisa kubuat kapan pun. Segera aku simpan pekerjaanku dan kumatikan komputerku.

“Tentang si Yudha atau si Hendra?” tanyaku menebak.

“Hendra. Aku nggak nyangka dia seperti itu.”

“Emangnya ada yang salah dengan Hendra? Kamu jadi mengiriminya surat?”

“Aku memutuskan untuk bicara langsung dengannya. Kalau ditolak, tidak masalah. Yang penting tidak ada bukti tertulis aku pernah menyukainya. Kalau dia sok banget lalu cerita ke teman-temannya, aku bisa menyangkalnya.”

“Wah.. Kamu cerdas juga..” komentarku. Emang bener sih.

“Hendra menerimaku, Boy. Tapi langsung aku putus lagi dia. Brengsek tuh anak.”

“Lho, ada apa? Kamu menyukainya. Hendra menerimamu, kenapa batal?”

“Ya emang bener kita saling menyukai. Tapi si Hendra ternyata nafsu sekali. Masa begitu kami jadian, dia langsung kiss aku, Boy!”

“Hm.. Gak masalah kan jadian lalu kissing? Bagimu terlalu cepat ya?” tanyaku mencoba memahami Ita.

Aku banyak mendengar cerita dari teman-temanku yang langsung kissing pada hari jadian mereka. Jadi, aku menganggap hal itu biasa terjadi.

“Ya bener nggak masalah. Tapi masa kissing belum apa-apa, tangannya sudah mau menjelajahi tubuhku. Meremas payudaraku. Wah.. Cowok apaan tuh? Emang pacaran buat apaan? Nge-sex?” protes Ita. Kali ini kuakui Hendra memang terburu nafsu. Tapi aku ingin memancing Ita lebih jauh lagi.

“Lho.. Kan nggak harus diputus? Beri kesempatan dong. Lagian, seingatku, kemarin kamu memuji keseksiannya. Bibirnya yang menarik.. Kok sekarang begini? Wajar kan cowok begitu? Salah sendiri kamu cantik dan sexy, Ita?” tanyaku lagi.

“Bener aku cantik dan sexy menurutmu, Boy?” Tanya Ita. Suaranya terdengar agak berat. Menurutku dia mulai ingin menangis.

“Ya, kamu cantik dan sexy.. Wajar kalau Hendra ingin menyentuhmu..” aku agak nekat berkata seperti ini.

Perkataanku kali ini keluar dari jalur empatiku terhadap Ita. Resikonya Ita akan berpikiran aku seperti hendra. Tapi ternyata Ita agak memerah mukanya. Aku belum berani mengartikan perubahan warna mukanya.

“Kalau Boy.. Apa ingin menyentuhku?” bisik Ita.

Kali ini aku seperti disambar petir. Sungguh di luar dugaanku. Sekian detik aku berusaha mencerna maksud kalimatnya. Merekonstruksi kejadian telepon kemarin, kisah Yudha, dan Hendra. Aku punya dugaan, tetapi aku belum yakin. Tiba-tiba darahku berdesir. Aku tegang memikirkan kata-kataku selanjutnya untuk memancing apa maksud Ita.

“Hm.. Ita terlalu berharga untuk sekedar di sentuh..” bisikku. Kali ini aku menyelidiki matanya. Eyes never lies. Pupil matanya mengecil. Ita menyimpan sesuatu.

“Lalu apa yang ingin cukup berharga untuk Boy lakukan terhadap Ita?” tanyanya kemudian.

Dugaanku semakin kuat. Aku hampir melonjak kegirangan ketika menemukan kesimpulanku. Tapi aku bukan pria yang gegabah. Aku masih membutuhkan tambahan informasi untuk dugaanku. Kurasakan penisku ereksi. Entahlah, kalau otakku lagi menaikkan kinerjanya, seringkali penisku ereksi.

“Kalau aku.. Aku akan membuat Ita melayang. Menembus awan, terbang ke langit merasakan kebebasan. Ya.. Boy mungkin akan jauh lebih berani dari Hendra..”

Aku berdebar menantikan reaksi Ita. Aku berharap pembaca mengerti. Dalam dugaan di pikiranku saat itu, cerita tentang si Hendra adalah rekayasa Ita. Aku sudah pada satu kesimpulan bahwa Ita menyukai dan menginginkanku.

Dan Ita memancingku untuk mengetahui seberapa berani aku terhadapnya. Tetapi memang dugaanku ini menyisakan kemungkinan untuk salah. Jika ternyata Ita jujur, maka aku sudah telanjur mengungkapkan hasratku. Aku setali tiga uang dengan hendra. Menginginkan tubuh Ita.

“Bagaimana cara Boy membawaku terbang melayang..?” bisik Ita sambil mendekatkan wajahnya.

Aku mulai bisa merasakan hangat nafasnya. Aku jadi takut melangkah. Seharusnya aku sudah menciumnya saat itu. Merengkuh tubuhnya dan menunjukkan caraku membawanya terbang melayang.

Daripada dengan kata-kata, jauh lebih baik dengan perbuatan. Tapi justru sikap Ita membuatku hati-hati. Penisku semakin tegang. Gila.. Apa maksudmu, Ita?

Sedetik.. Dua detik.. Tiga detik.. Dan aku memutuskan untuk tidak menciumnya.

Aku berdiri dan duduk di sofa di sampingnya. Ini rumahku. Tentu aku tidak mau dipermalukan di rumahku sendiri. Tampaknya aku kehilangan momen menentukan tadi.

“Boy?” bisik Ita. Dia memalingkan tubuhnya menghadapku.

“Aku bisa mencumbumu, membuat tubuhmu merasakan kenikmatan dan akhirnya bercinta denganmu, membawamu terbang melayang. Tetapi aku menghargaimu, Ita. Aku bukan Hendra. Aku tidak akan menyentuh tubuhmu tanpa ijinmu.

Tanpa kau sendiri yang menginginkannya untuk aku lakukan terhadapmu..” aku akhirnya memilih berhati-hati. Sesaat aku ingin kesempatan yang tadi terulang. Mungkin aku betul-betul akan menciumnya kalau kesempatan itu ada lagi.

Plak!, sebuah tamparan dari Ita ke wajahku. Aku terkejut. Tidak ada alasan bagi Ita untuk berhak menamparku. Aku tidak bersalah. Sedetik kemudian aku sadar. Ini mungkin momen kedua. Tamparan tadi pasti ijin dari Ita agar aku menciumnya. Dan aku merengkuh tubuhnya. Menciumnya tepat di bibirnya.

Ita menyambut ciumanku dengan dahsyat. Bibirnya bergerak lincah berpadu dengan lidahnya yang menari-nari mencumbuku. Aku merasakan sensasi baru dalam bercumbu karena kehebatan Ita memainkan lidahnya.

Lidahnya seperti punya nyawa sendiri. Bisa hidup dan bergerak sendiri. Aku tentu saja tidak mau kalah. Kugunakan bibir dan lidahku pula untuk melayani permainannya. Benar-benar percumbuan yang panas. Tangannya mengacak-acak rambutku. Sedangkan aku terkonsentrasi pada bibirnya. Tanganku menahan lehernya agar tetap dekat denganku.

“Uhm..” ciumanku beralih ke pipi, leher dan telinganya. Ita menggelinjang hebat ketika aku mencium telinganya.

“Ughh..” desah Ita.

Bahasa tubuh Ita ini khas sekali. Sangat penuh dengan sentakan. Seakan-akan seluruh tubuhnya berisi titik-titik peka yang mudah dirangsang. Bagian apa pun yang kusentuh dengan tanganku, membuatnya menggelinjang. Gadis ini liar dan menggairahkanku!

“Si Hendra itu rekayasamu, ya?” bisikku di telinganya untuk memastikan dugaanku.

“I.. Iyah..” jawab Ita sambil menahan nikmat.

Aku tertawa penuh kemenangan dalam hati. Dugaanku ternyata benar. Untung aku tidak kehilangan momen keduaku ini. Tanganku menyelusup ke balik kaosnya. Meraba kait bra-nya yang 34C dan melepas bra-nya turun.

Dengan lembut aku menempatkan telapak tanganku ke payudaranya. Aku meletakkan putingnya tepat di tengah telapak tanganku dan mulai kuputar tanganku. Sesekali aku menekan payudaranya yang lembut.

“Kau.. Memang lembut Ita..” bisikku.

Lidahku kini memasuki telinganya. Ita kegelian. Sontak kepalanya menunduk ke arah bahunya, menjepit wajahku. Refleks menahan geli. Tangan kiriku dengan leluasa menjelajahi punggungnya yang ditumbuhi bulu-bulu sangat halus. Ita beberapa kali tersentak menahan rangsangan di punggungnya. Wah.. Gadis ini mudah sekali dirangsang, pikirku.

Bibir kami kembali beradu. Bercumbu dengan sebebas-bebasnya. Sepuas-puasnya. Aku terkejut ketika tiba-tiba Ita melenguh cukup keras. Kuatir kalau adik atau pembantuku terbangun dari tidurnya.

Dengan bersemangat aku menggendong tubuh Ita. Sambil tetap bercumbu aku membawanya masuk ke kamarku. Membaringkan tubuh Ita ke spring bed, mengunci pintu, menyalakan AC dan memutar radio. Setidaknya suara Ita tidak akan terdengar sampai keluar.

Begitu aku selesai memutar radio, kulihat Ita sudah melepas kaosnya dan celana dalamnya. Dia telanjang bulat di depanku. Sungguh tubuhnya sangat indah. Payudaranya yang 34C terlihat begitu memukau. Bentuknya sangat seksi. Pas di tubuhnya yang langsing. Beberapa saat kami berhadap-hadapan. Aku menikmati memperhatikan tubuhnya yang utuh.

Ita kemudian melompat ke arahku. Memelukku sambil tangannya bergerak cepat melepas kaos dan celanaku. Sangat terampil dan cekatan. Dalam waktu singkat kami sama-sama telanjang bulat. Ita sungguh liar. Sambil sama-sama berdiri kami bercumbu lagi. Beberapa kali aku harus menahan keseimbangan agar tidak terjatuh.

Ternyata sulit bercumbu dengan penuh semangat sambil berdiri tanpa sandaran. Perlahan aku menyandarkan tubuh Ita ke dinding kamarku.

Eh, Ita tidak mau. Aku yang disandarkannya ke dinding kamarku. Dia menyerangku. Mencumbuku dengan semangat. Lidahnya mulai menyapu leherku, dan menggigitku kecil. Kemudian turun ke dada, perut dan akhirnya menemukan penisku yang sudah berdiri tegak.

“Aagh..” aku melenguh menahan nikmat saat Ita mulai mengoralku.

Tidak hanya mengoral. Tangannya juga aktif memijat penisku dari batang penis, menuju pangkal penis. Memainkan testisku, kadang tangannya dengan nakal membuat guratan maya dari penis ke anusku. Sangat menggairahkan. Oralnya dahsyat juga. Ita tanpa segan mengulum penisku dan sepertinya dia berusaha menelan semua penisku!

“Ah.. Ah..” aku hanya bisa mendesah.

Kepala penisku semakin membesar dengan warna kemerahan. Aku tahu, ini ereksi maksimalku. Penisku mencapai diameter terbesarnya. Sekitar 4.2 ? 4.7 cm. Ita makin bersemangat mengoralku. Sekarang dia berusaha menghisap kepala penisku. Oh.. Dia menemukan sisi lemah penisku. Aku paling tidak tahan kalau serangan oral ditujukan hanya ke kepala penisku.

“Lepas dulu Ita, aku tidak tahan..” bisikku.

Daripada aku orgasme saat itu, rugi berat. Aku harus pandai mengatur tempo. Ita mematuhiku. Dia hanya memijat penisku dengan tangannya. Perlahan aku ikut menunduk. Mataku menatap selangkangannya. Ita tampaknya mengerti maksudku.

Dia duduk di atas spring bed dan membuka kakinya lebar-lebar. Kepalaku masuk dan aku mulai mengoralnya. Baunya mirip dengan Ria, sama-sama khas. Tetapi bau milik Ita lebih harum. Belakangan aku tahu Ita menggunakan pengharum khusus.

Aku merasa lebih enjoy mengoral Ita kali ini. Vagina Ita bulunya dicukur sampai hanya tersisa sedikit. Aku menyibak labia mayoranya dan mulai menyedot vaginanya.

“Arg..” Ita melenguh.

Lidahku menari-nari dengan bebas. Menghisap dan menjilat dengan leluasa. Aku seperti menemukan sirup kental asin di vaginanya yang basah.

Aku mulai terbiasa dengan rasa asin itu. Kunikmati saja. Srrt.. H.. Slurrpp.., aku benar-benar mengoral Ita sepuasku. Tubuh Ita tersentak-sentak. Rambutku dijambaknya dengan keras. Bahkan kadang tangannya mengepal memukuli tubuhku.

“Boy, ah.. Kau.. Arghh..” suara Ita tak kudengar jelas.

Dia meraung dan menggelinjang. Setelah beberapa menit, mulutku terasa capek. Aku kemudian menggunakan dua buah jariku untuk mencari G-spotnya. Di dinding dalam vaginanya, aku menemukan daerah yang ada bintik-bintik kecilnya.

Aku berhenti disitu dan mulai merangsangnya disitu. Tubuh Ita bergetar makin hebat. Aku belum yakin apakah itu G-Spotnya, tetapi yang jelas reaksi tubuh Ita sungguh dahsyat. Dia sampai menjerit dan berteriak..

“Argh.. Enaakk!! Terus Boy..!”

Aku tak peduli apakah teriakan Ita terdengar sampai keluar. Yang jelas aku makin bersemangat menyiksanya dengan kenikmatan.

Tak lama kemudian aku mengambil kondom dan memakainya. Aku sampai saat itu masih tetap ingin bercinta dengan kondom. Ita tampaknya tidak keberatan aku memakai kondom.

“Sudah pengalaman pakai kondom ya?” goda Ita. Aku tersenyum. Jadi ingat Ria, nih.

Aku meminta Ita membalikkan tubuhnya. Ingin kucoba posisi doggy. Perlahan kumasukkan penisku. Ternyata lebih mudah memasukkan penis dengan posisi seperti ini. Mulai kudorong lebih dalam dan.. ‘bless..’ penisku sukses memasuki sarang kenikmatan.

Kami bercinta dengan dahsyat. Pertama aku memompa penisku dengan tempo pelan. Menikmati setiap gesekannya. Kemudian temp bertambah cepat. Bertambah cepat lagi dan akhirnya sampai terdengar bunyi yang khas setiap aku memompakan penisku ke vaginanya.

Ita kali ini lebih diam. Dia hanya melenguh sesekali. Kulihat bibirnya merapat. Mungkin ini caranya menikmati persetubuhan. Aku terus memompa penisku. Keluar masuk vaginanya. Sesekali aku berhenti untuk mengambil nafas, memutar-mutar penisku dan kalau aku sudah di ambang orgasme, aku berhenti lagi. Aku tidak mau tergesa-gesa orgasme.

“Ganti posisi, Boy..” kata Ita.

Aku kemudian telentang di springbedku. Ita menaikiku dari atas. Kubantu penisku memasuki vaginanya. Wah, ini pertama kalinya aku bercinta dengan tubuh di bawah. Aku sedikit kesakitan waktu Ita hendak menurunkan tubuhnya. Agak kurang pas mungkin. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya kami sukses melakukannya.

Ternyata enak juga. Aku tidak banyak bergerak. Hanya tanganku sesekali meremas lembut payudaranya. Selebihnya Ita yang aktif. Tampaknya ini posisi favorit Ita. Dia memutar-mutar pantatnya, naik turun mempermainkan penisku. Kurasakan denyut vaginanya yang menjepit penisku. Luar biasa. Aku akhirnya bisa bercinta lebih lama dibanding dengan Ria.

“Arg.. Argh..” Suara Ita menikmati percintaan kami.

Tak lama kemudian kurasakan tubuh Ita bergetar makin hebat, makin hebat dan gerakannya makin cepat. Ita sedang berlari mengejar orgasmenya. Beberapa saat kemudian Ita menghentikan gerakannya. Tubuhnya menegang dan ia melenguh panjang.. Rupanya Ita mencapai orgasmenya. Yang aku ingat, ada ciri menarik dari orgasme Ita. Orgasmenya berbunyi! Ada bunyi yang keluar dari vaginanya. Aku sampai terheran-heran kemudian tertawa.

“Kamu orgasme ya? Kok bunyi?” kataku heran.

“Iyaa.. Jangan diledek ya!” kata Ita manja.

Posisi berganti lagi. Aku memilih posisi konvensional dengan tubuhku diatas. Aku ingin menikmati melihat wajah dan tubuh Ita dengan bebas. Dengan posisi ini, energi yang kukeluarkan makin banyak. Tak lama kemudian akupun orgasme. Aku dengan lega menyemburkan spermaku. Kemudian kutarik penisku dan kulepas kondomnya.

“Kamu luar biasa..” bisikku sambil mencium hidungnya.

“Makasih ya Boy.. Aku sudah lama menyayangimu. Tapi kupikir kamu anaknya kuper. Cuma mengurus komputer dan buku kuliah. Ternyata kamu menikmati sex juga..”

“Kamu kapan mulai kenal Sex, Ita?” tanyaku sambil memeluk pinggangnya dan mengelusnya lembut.

“Dari SMU kelas 1, Boy. Tuh si Erdy yang dapat.” Kata Ita terus terang.

Wah, aku tidak suka mengetahui siapa cowok yang pernah bercinta dengan wanita yang berbagi kenikmatan denganku. Tetapi aku menghargai Ita yang berterus terang.

“Kamu hipersex ya, Ita?” tanyaku lagi.

“Engga tuh, Boy. Aku angin-anginan. Kalau aku lagi penasaran dengan seseorang, aku bisa tiba-tiba bergairah dengannya. Tapi pernah juga aku pacaran 5x tanpa making love. Malas aja gitu. Tak tentu deh.”

Aku mendapatkan jawaban yang berbeda lagi. Jangan-jangan tiap wanita berbeda jawabannya?

“Kalau lagi kepingin.. Kamu memilih masturbasi atau making love?”

“Ya making love lah! Jauh lebih enak. Ngapain masturbasi? Tapi aku tidak bisa making love dengan sembarang pria, Boy. Kamu orang ke tiga yang ML denganku.”

Aduh.. Aku orang ketiga! Aku benar-benar tidak suka kejujuran seperti ini. Tidak ada perlunya aku tahu bahwa aku orang ke tiga yang bercinta dengannya.

“Lalu.. apakah sex itu sangat penting bagimu? Apakah sex itu salah satu yang terutama?” aku kemudian menceritakan rasa penasaranku terhadap wanita. Aku juga bercerita tentang pendapat Lucy dan Ria.

“Dulu aku berpikiran tidak. Tetapi setelah merasakan ML pertamaku yang luar biasa, aku jadi merasa sangat membutuhkan sex. Rasanya, memang sex menjadi salah satu yang utama.”

“Oh ya? Kalau ada cowok dengan daya seks yang hebat, tetapi dia tidak setia, tidak menghargaimu dan banyak sisi negatifnya.. Dibanding dengan cowok yang setia, menghargaimu.. Dan banyak sisi positifnya, tetapi daya seksnya sangat lemah atau impoten, kamu pilih yang mana?” tanyaku kemudian.

“Wah.. Susah nih jawabnya. Lagian tidak mungkin kan seseorang dengan potensi sex hebat tapi semua pribadinya jelek? Dan juga aku rasa hanya sedikit orang yang impoten permanen. Selebihnya pasti ada solusi untuk impotensinya.”

“Jawab aja. Aku cuma ingin tahu.” desakku pelan.

“Hm.. Kamu jangan cerita ke orang lain ya. Papaku sekarang impotent. Tapi dia jauh lebih baik dibanding dulu. Dari curhatnya Mama ke aku, rasanya Mama lebih suka Papa yang sekarang deh.”

“Itu kan Mamamu. Kalau kamu?”

“Susah, Boy, aku jawab lain kali ya?”

Nah, aku tidak bisa memaksanya bukan? Jawaban kira-kira juga tidak akan enak disimpulkan. Yah, aku berharap dengan berjalannya waktu, Ita akan terus berpikir dan lalu menyimpulkannya.


THE END

Cerita Selingkuh:Istri Kakakku Kesepian

Cerita Selingkuh:Istri Kakakku Kesepian
MESUM.online - Sebut nama ku Dede, semasa kuliah aku tinggal bersama kakakku Deni dan istrinya Dina. Aku diajak tinggal bersama mereka, karena kampusku dekat dengan rumah mereka, daripada aku kost. Usiaku dengan Kak Deni selisih 5 tahun dan Dina 2 tahun lebih tua dariku.

Karena Kak Deni bertugas di kapal, ia sering jarang di rumah. Sering kulihat Dina kelihatan kesepian karena ditinggal kakakku. Kuhibur dia dan akhirnya kami sering bercanda. Lama-lama Terkesan kalau Dina lebih dekat ke aku dibanding Kak Deni. Karena Kak Deni jarang pulang akhirnya kami sering keluar jalan-jalan. Dan terkadang kami nonton bioskop berdua untuk menghilangkan rasa sepi Dina. Sering Dina dikira pacarku, tentu aku jadi bangga jalan dengannya. Seluk beluk di dirinya membuat mata terpikat dan tak lepas melirik. Keesokan harinya sepulang kuliah kulihat rumah sepi. Sesaat aku bingung ada apa dan kemana Dina. Sesaat kulihat di celah pintu kamarnya ada cahaya TV. Segera kucek apa ia ada di kamar. Kubuka pintunya, sesaat kuterdiam, terlihat di TV kamarnya adegan yang merangsang, sekilas kulihat Dina sedang terlentang dan ia kaget akan kehadiranku. “Maaf Mbak!” sahutku dengan tidak enak.

Lalu kututup pintu kamar dan keluar. Sekilas teringat yang sekilas kulihat tadi. Dina sedang asyik memainkan buah dadanya yang besar dan daerahnya yang indah dengan sebagian kulit yang tak tertutup sehingga memamerkan beberapa bagian tubuhnya. Sesaat beberapa lama di dalam kamar. Rasanya kuingin menonton yang Dina tonton tadi. Lalu kusetel CD simpanan di kamarku. Tampaknya birahiku muncul melihat adegan-adegan itu, sesaat terlintas yang dilakukan Dina di kamarnya. Tubuhnya merangsang pikiranku untuk berkhayal. Akhirnya seiring adegan film aku berkhayal bercinta. Kukeluarkan penisku dan kumainkan. Sesaat aku kaget, Dina masuk ke kamarku. Rupanya aku lupa mengunci pintu. Ia terlihat terdiam melihat milikku. Wajahnya tegang dan bingung. Sesaat kami sama-sama terdiam dan bingung.

“Ma.. maaf, ganggu ya,” tanya Dina dengan matanya yang menatap milikku.”Eh.. enggak Mbak, a.. ada apa Mbak,” sahutku dengan tanganku yang masih memegang milikku.”Nggak, tadi ada apa kamu kekamar?” tanya Dina dengan bingung karena kejadian ini.”Oh itu, sangkain aku rumah kosong, aku nyari Mbak,” sahutku sambil kumasukkan milikku lagi.”Kamu nonton apa?” tanya Dina lalu melihat film yang kusetel.”I.. itu.. sama yang tadi,” sahutku dengan isyarat yang ditonton Dina di kamarnya.Dina terdiam sesaat sambil melihat film.”Maaf Mbak, boleh pinjem yang tadi nggak?” tanyaku dengan malu.”Boleh, kenapa enggak?” jawab Dina.”Mau minjem Mbak.. apa mau nonton di sini?” tawarku kepada Dina.”Sekalian aja deh, biar rame,” jawabnya.

Adegan demi adegan difilm kami lewati, dan beberapa kali kami mengganti film. Kami juga berbincang dan mengobrol tentang yang berhubungan di film. Mungkin karena kami sering berdua dan bicara dari hati ke hati akhirnya kami merasakan ada kesamaan dan kecocokan. Kami tidak canggung lagi. Rasanya kami sama-sama menyukai tapi kami sadari Dina milik kakakku. Kami akhirnya biasa duduk berduaan dengan dekat. Sering dan banyak film kami tonton bersama. Kami akhirnya mulai sering melirik dan bertatapan mata. Sesaat saat film berputar tanpa kami sadari, tatapan mata kami membuat bibir kami bersentuhan. Tampaknya gairah kami sama dan tak bisa dibendung dan kami tergerak mengikuti iringan gairah dan birahi. Aku pikir ciuman tak apalah, akhirnya bibir dan lidah kami saling bersaing. Nafsu membuat kami terus berebutan air liur.

Beberapa lama kami nikmati kejadian ini, kemudian kami tersadar dan berhenti. Kami hanya bisa diam dalam pelukan. Mata kami tak sanggup bertatapan. Rasanya bingung. Cukup lama kami berpelukan sampai akhirnya kami duduk biasa lagi. Kehangatan tubuh dan sikap Dina memancing birahiku. Beberapa lama kami tak bisa mengeluarkan kata-kata. Perlahan kubuai rambut panjang Dina. Tampaknya ia menyukainya. Perlahan tanganku mengelus pundaknya. Sesaat kami bertatapan lagi. Wajahnya dewasa dan cantik, kurasakan wajah yang mengharapkan sentuhan dan kehangatan. Kurasakan isyarat dari Dina untuk berciuman lagi. Tanpa basa-basi kulahap bibirnya, ahh nikmat rasanya. Bibirnya terasa lembut di bibirku. Lalu dada kami saling berhadapan. Sekilas kulihat buah dadanya yang besar. Lalu kupeluk Dina dengan maksud ingin menyentuh dan merasakan miliknya.

Sesaat kurasakan miliknya di dadaku, besar, empuk dan besar. Perlahan tanganku mengelus-elus pahanya yang lembut dan halus. Sebagai penjajakan kuelus selangkangannya, tampaknya ia menikmatinya. Kurasakan tanganku ia elus sebagai tanda ia menyukainya. Tanpa menunggu aku segera meraba-raba daerah sensitifnya. Sesaat tanganku ia raih dan ia giring ke dadanya. Ahh, akhirnya kurasakan buah dada yang besar di dekapan tanganku. Sesaat kurasakan milikku didekap tangan Dina, ahh rasanya aku menikmatinya. Perlahan tangannya memainkan, nikmat rasanya. Perlahan kulepaskan tangan Dina dari milikku. Kubuka sebagian celanaku sehingga milikku menghunus tegap. Kuraih tangannya dan kuarahkan ke milikku. Sesaat tangannya mendekap milikku, ia mainkan lalu beberapa lama kemudian wajahnya menuju ke milikku dan ia hisap. Ah, lembutnya mulut Dina. Rupanya ia suka menghisap milikku. milikku keluar masuk di mulutnya secara perlahan seiring tangannya yang mengayun-ayun milikku.

Perlahan kuangkat kaosnya sehingga terlihat buah dada yang tertutup bra. Kuraih kaitannya dan kulepas. Perlahan tanganku menyusup di branya lalu meraba dan meremas buah dadanya yang besar, halus dan lembut. Kurasakan putingnya yang kenyal mengeras, dadanya pun mengeras. Lalu tanganku menuju celana pendeknya dan kubuka bersama celana dalamnya. Ahh, indah tubuhnya bila tanpa pakaian dan sangat merangsang. Pinggangnya yang ramping dan pinggul yang lumayan, kulitnya putih bersih dan mulus. Kuelus-elus bokongnya yang halus dan lembut. Pahanya kuraba lalu bulunya dan tonjolan sensitifnya. Seiring hisapannya kumainkan bibir vagina yang sudah basah perlahan jariku masuk ke liang vaginanya. Kurasakan lembut di jemariku, nikmat rasanya.”Dede.. oouuhh..” ucapnya seiring jariku yang tertancap di liangnya. Sesaat kemudian kurasakan gerakan mulut dan nafasnya tambah cepat. Kurasakan air liur Dina membasahi milikku.

Cukup lama mulutnya bermain sampai ku tak tahan menahan maniku. “Mmmhh..” ucap Dina seiring semburanku di dalam mulutnya. Kurasakan mulutnya tetap menghisap milikku, lalu maniku dan terus sampai beberapa lama. Kemudian bibirnya selesai bermain. “Udah De?” sahutnya dengan isyarat apakah aku puas. Aku tersenyum melihat wajah cantiknya yang memucat dan merangsang. Rasanya milikku belum puas masuk di mulutnya. Kemudian ia terbaring dengan jariku yang masih masuk di liangnya. “Mbak yang ini belom,” sahutku dengan isyarat jariku yang keluar masuk di liangnya.”Emang kenapa?” tanyanya dengan isyarat wajah yang menanyakan apa keinginanku. Kemudian kubuat posisi bersetubuh. Kaki Dina mengangkang lebar dan terangkat seakan siap bermain. Bibir vagina yang agak merah terlihat jelas olehku. Milikku yang terhunus akhirnya menyentuh bibir vaginanya yang lembut yang sudah basah. Perlahan kumasukkan dan akhirnya hilang tertelan di liang Dina yang lembut.

“Mmhh..” desah Dina dengan dagunya yang perlahan terangkat dan telapak kakinya memeluk pinggulku. Milikku keluar-masuk diliangnya dan dada Dina membusung seakan tidak kuat merasakan kenikmatan sentuhanku. “Ooouuhh.. oouuhh..” berulang desahan itu Dina keluarkan. Beberapa lama kurasakan nikmatnya tubuh Dina. Perlahan kurasakan pinggul Dina bergerak sehingga mempercepat gesekan penis dan liangnya. Sessat ia dekap tubuhku. Tubuhnya menegang. “Dede..” ucapnya dengan getaran kenikmatan. Aahh Kurasakan penisku didekap kuat liang Dina. “Ooouuhh,” desah nikmat Dina. Kulihat Dina mulai melemas pasrah. Melihat ini gairahku meningkat seakan tubuhnya santapanku. Nafsuku membuat milikku keluar masuk dengan cepat. Ahh, puncakku disaat penisku masih di dalam liang Dina. Aku tak dapat menahan semburanku karena nikmatnya tubuh Dina. “Ooouuhh..” desah Dina mengiringi setiap semburanku. Milikku kubiarkan tertancap terus. Tampaknya Dina tak menolaknya. Tubuhku belum puas menikmati tubuhnya. Terkadang tanganku menikmati dada dan putingnya. Dan beberapa kali kami berciuman lagi. Aku tak peduli walaupun bibirnya bekas milik dan maniku karena benar-benar nikmat.

Sampai tenaga kami pulih, kurasakan dekapan liang Dina yang agak mengering basah lagi. Lalu kami bermain lagi. Ini terus kami lakukan sampai kami tak kuat dan tidur kelelahan. Esoknya kami tersadar dan kami mandi bersama. Tampaknya kami menyukai kejadian kemarin. Rasa bersalah hilang karena Kami rasakan kecocokan, dan kami teruskan hubungan ini. Karena kakakku jarang di rumah kami sering berdua, tidur bersama dan mandi bersama dengan sentuhan-sentuhan yang nikmat. Ini menjadi rahasia kami berdua seterusnya. sampai aku memiliki istri dan sama-sama mempunyai anak kami terus berhubungan.

THE END

Cerita Mesum: Gairah Dokter Melinda

Cerita Mesum: Gairah Dokter Melinda
MESUM.online - Melinda adalah seorang dokter muda yang baru saja menyelesaikan pendidikan dokternya pada sebuah universitas ternama di Sumatera. Sebagaimana dokter baru ia harus menjalani masa ptt pada sebuah desa di daerah itu. Orang tua dan tunangannya keberatan jika Melinda melaksanakan ptt di daerah itu, selain jauh dari kotanya dan daerah itu masih terbelakang dan terisolir.
Orang tua Melinda sangat keberatan dan ia mengupayakan agar Melinda ditempatkan pada daerah yang dekat dan tidak terisolir itu. Upaya orang tuanya ini gagal karena telah menjadi keputusan instansi pusat dan tidak dapat di batalkan.

Kekuatiran orang tua dan tunangannya amat beralasan, karena Melinda adalah masih muda dan belum mengetahui seluk beluk masyarakat desa itu, ditambah kerasnya kehidupan di desa yang terkenal dengan kebiasaan masyarakatnya yang primitif itu. Selain itu Melinda akan menikah dengan Iqbal tunangannya beberapa bulan lagi. Memang Melinda dan Iqbal telah lama pacaran dan kedua orang tua mereka merestui hubungan mereka.

Melinda adalah seorang gadis yang masih berusia 24 tahun merupakan mahasiswa kedokteran yang memiliki kemampuan yang dapat dibanggakan, sehingga tidak heran ia dalam waktu yang singkat telah menamatkan kuliahnya.

Selain itu ia berparas cantik, memiliki sosok yang membuat lawan jenisnya ingin mendapatkannya, namun hatinya telah jatuh kepada Iqbal yang merupakan pria yang gigih mendapatkannya, hingga ia mau di pertunangkan dengan nya.Iqbal adalah seorang pria yang telah memiliki kehidupan yang mapan pada sebuah BUMN di kota itu, selain itu ia anak dari sahabat ayah Melinda.

Selama mereka pacaran hanya di isi dengan makan malam dan kadang nonton. Mereka berdua tidak pernah melakukan hal yang bertentanggan dengan adat dan agama, sebab masing-masing menyadari suatu saat akan mendapatkannya juga nantinya.
Setelah melalui perjalanan yang melelahkan Melinda dengan diantar ayahnya dan Iqbal didesa itu. Perjalanan dari kotanya memakan waktu selama 1 mhari perjalanan ditambah jalan yang amat rusak dan setapak. Didesa itu Melinda di sambut oleh perangkat desa itu dan kepala dusun. Dengan sedikit acara, barulah Melinda resmi bertugas. Lalu ayahnya dan Iqbal pulang ke kota besoknya setelah mewanti-wanti Melinda untuk berhati-hati.

Hari pertama ia bertugas Melinda dibantu oleh kader kesehatan yang bertugas penunjuk jalan. Melinda menempati salah satu rumah milik kepala dusun yang bernama pak Irfan. Pak Irfan amat disegani dan ia termasuk orang kaya didesa itu.

Usianya sekitar 48 tahun dan memiliki 3 orang istri. Pak inipun sering meminjamkan sepeda motornya kepada Melinda untuk tugas-tugasnya, kadang-kadang ia sendiri yang memboncengkan

Melinda saat Melinda ingin ke desa sebelah. Bagi Melinda keberadaan Pak Irfan ini amat membantunya di saat ia hampir putus asa melihat lingkungan desa yang hanya terdiri dari hutan dan jalan yang hanya bisa ditempuh dengan sepeda motor.

Karena sering diantar kedesa desa lainnya, seringkali tanpa disadari oleh Melinda telah membuat paka Irfan menaruh rasa ingin memiliki dari diri paka Irfan, apalagi jika dalam berboncengan seringkali dada Melinda yang montok itu bersentuhan dengan punggung paka Irfan. Sebagai laki-laki normal iapun merasakan ingin yang lebih jauh lagi. Melinda merasa ia tak bisa bertugas jika tanpa dibantu pak Irfan.

Suatu hari saat pulang dari desa tetangga, mereka kehujanan dan hari saat itu hujan turun dengan derasnya.Lalu dengan buru-buru pak Irfan mempercepat kendaraannya , secara otomatis Melinda memegang pinggang pak Irfan dengan erat dan dalam suasana itu pak Irfan dapat merasakan kehangatan dan sentuhan dada Melinda dengan nyata. Lalu mereka sampai di kediaman Melinda yang merupakan juga rumah milik pak Irfan. Sesampai didalam rumah, Melinda masuk kekamar dan mengganti pakaiannya dengan kimono handuk, sedang pak Irfan ia pinjami handuk untuk ganti pakainan yang basah itu.


Saat Melinda berganti pakaian tadi pak Irfan mengintipnya dari celah pintu kamar itu. Jakunnya naik turun karena melihat kehalusan dan kemulusan kulit tubuh Melinda seluruhnya. Dengan langkah pasti ia duduk di ruang tengah rumah itu karena diluar hari hujan.

“Wah, hujannya deras sekali pak.” kata Melinda,
“Bagaimana jika nginap disini saja pak.”
“Ooooo.. terima kasih bu. Kalau hujan reda saya akan pulang…” terang pak Irfan.
“Baiklah pak…” jawab Melinda.

Lalu Melinda kedapur dan membuatkan kopi untuk pak Irfan.

“Pak, ini kopinya ..”.
“Wah kopi… bisa begadang saya malam ini bu.”
“O.. ya.. pak .. apa perlu saya ganti dengan teh hangat?” jawab Melinda.
“Ohh… nggak usah buk.. ini juga nggak apa.” timpal pak Irfan, sambil memandang kearah Melinda.

Hingga saat itu hujan belum reda dan paka Irfan terpaksa nginap di rumah itu. Melinda terus menemani paka Irfan ngobrol tentang pekerjaan hingga rencana ia akan menikah. Pak Irfan mendengarnya dengan penuh perhatian dan sesekali mencuri pandang dada Melinda. Melinda tak enak hati jika ia meninggalkan pak Irfan sendirian malam itu karena pak Irfan telah banyak membantunya.

Sedang matanya mulai ngantuk. Sedang hiburan di rumah itu tidak ada karena tidak adanya jaringan televisi.

Melihat Melinda yang mulai ngantuk itu lalu pak Irfan menyuruh Melinda tidur duluan.
“Bu, tidur aja dulu biar saya diluar sini.”
“Wah saya nggak enak ni pak masa pak Irfan saya tinggal.”

Melinda memaksakan dirinya untuk terus ngobrol hingga jam menunjukan pukul 9 00 wib yang kalau didesa itu telah larut
ditambah hujan deras.

Dari tadi pak Irfan terus memperhatikan Melinda karena suasana malam itu membuatnya ingin mengambil kesempatan terhadap Melinda dengan tidak menampakkan keinginannya.

Padahal saat itu tanpa di sadari Melinda pak Irfan telah duduk disamping Melinda.

“Bu… Melinda.., dingin ya buk..” kata pak Irfan.
“Ya pak…,” sahut Melinda.. dengan pasti pak Irfan, meraih
tangan Melinda.
“Ini bu, saya pegang tangan ibu ya.., biar dinginnya hilang….” bisik Pak Irfan.

Melindapun membiarkan pak Irfan meraih tangannya, memang ada hawa hangat yang ia rasakan. Lalu pak Irfan melingkarkan
tangannya di bahu Melinda dan mengelus balik telinga Melinda, padahal itulah daerah sensitif Melinda. Kepala Melinda lalu rebah di bahu pak Irfan dan seperti sepasang kekasih pak Irfan terus meransang daerah peka di tengkuk dan bahu Melinda.

Melindapun meresapi usapan dan elusan lembut laki-laki yang seusia dengan ayahnya itu, matanya hanya merem melek. Mungkin karena suasana dan cuaca yang dingin membuat Melinda membiarkan tindakan Irfan itu. Pak Irfan lalu berdiri, dan menarik tangan Melinda hingga berdiri. Melinda menurut, lalu ia tuntun kekamar yang dan menyilahkan Melinda berbaring.
“Bu, tampaknya ibu capai.” kata pak Irfan.
“Ya pak..” kata Melinda.

Pak Irfan keluar kamar dan mengunci pintu rumah itu dan memeriksa jendela lalu ia masuk kekamar Melinda kembali sambil menguncinya dari dalam. Ia sudah tidak sabar ingin menggauli Melinda yang telah menjadi obsesinya selama ini malam itu.

Pak Irfan berjalan kearah Melinda, yang saat itu duduk ditepian ranjang.

“Pak.. koq di kunci?” tanya Melinda.
“Biasalah bu, jika malam hujan begini kan biar hawa dingin nggak masuk…” timpal pak Irfan.
“Bagaimana bu apa masih Dingin?” tanyanya.
“Iya pak…” angguk Melinda.

“Baiklah buk bagaimana jika saya pijitin kepala ibu itu biar segar.” kata pak Irfan
“Silahkan pak…” jawab Melinda. Lalu Melinda duduk membelakangi pak Irfan dan pak Irfanpun naik ke ranjang itu dengan memijit kepala dan tengkuk Melinda.

Padahal yang dilakukannya adalah meransang Melinda kembali untuk bisa mengusainya. Sebagai laki-laki berpengalaman
tidaklah susah bagi Pak Irfan untuk menaklukkan Melinda, yang ia
tahu belum begitu tau tentang dunia sex dan laki-laki.

Dengan gerakan lembut dan pasti usapan tangannya mulai dari tengkuk hingga balik telinga Melinda. Melinda … menutup matanya menikmati setiap gerakan tangan pak Irfan. Dari dekat pak Irfan dapat merasakan dan menikmati kehalusan kulit Melinda.

Beberapa saat lamanya pijitan Irfan itu telah turun ke punggung dan diluar kesadaran Melinda kimononya telah turun dari bahunya dan yang tinggal hanya Bh yang menutup payudaranya. Bh itupun dengan kelincahan tangan pak Irfan jatuh dan sempat dilihat pak Irfan bernomor 34b. Masih dari belakang gerakan tangan pak Irfan lalu meremas payudara Melinda. Melinda sadar dan menahan gerakan tangan Pak Irfan..

“Sudah pak…, jangan lagi pak…” sambil memakai kimononya kembali sedang bhnya telah terjatuh.

Pak Irfan kaget dan ia memandang mata Melinda, ada nafsu tertahan, namun ia harus mulai memasang strategi agar Melinda, kembali bisa ia kuasai.

“Maaf bu.., kalau tadi saya lancang.” kata pak Irfan.

Melinda diam saja. Sedang saat itu pak Irfan hanya selangkah lagi bisa mengusai Melinda. Lalu pak Irfan berjalan keluar dan ia tinggalkan Melinda. Kemudian ia balik lagi kekamar itu, dan duduk disamping Melinda, pakaian Melinda saat itu acak-acakan.

“Bu…, apa ibu marah?” tanaynya.
“Tidak pak tapi sayalah yang salah. Padahal selama saya pacaran dan tunangan belum pernah seperti ini.” terang Melinda. Pak Irfan manggut-manggut mendengar perkataan Melinda.

Cuaca malam itu tetap hujan deras dan dingin udara terus menusuk tulang, pak Irfan mengerti jika Melinda khawatir sebab ia masih perawan, namun tekadnya sudah bulat bahwa malam itu Melinda harus bisa ia gauli.

Dalam kebiusan sikap Melinda saat itu, pak Irfan kembali meraih tangan Melinda dan menciumnya, Melinda diam membisu, lalu pak Irfan memeluk Melinda dan tidak ada penolakan dari Melinda, Rupanya Melinda saat tadi telah bangkit birahinya namun karena ingat akan statusnya maka ia menolak pak Irfan. Dijari Melinda memang melingkar cincin tunangan dan pak Irfan tidak memperdulikannya.

Dengan kelihaiannya, kembali Melinda larut dalam pelukan dan alunan nafsu yang di pancarkan laki-laki desa itu. Sekali sentak maka terbukalah kimono Melinda, hingga terbuka seluruh kulit tubuhnya yang mulus itu, tanpa bisa ditolak Melinda.Dengan penuh nafsu pak Irfan memilin dan membelai dada putih itu hingga memerah dan dengan mulutnya ia gigit putingnya. Keringat telah membasahi tubuh Melinda dan membuatnya pasrah kepada pak Irfan.

Sebelah tangan Irfan turun dan merongoh cd Melinda dan memasuki lobang itu yang telah basah. Lalu ia buka dan tubuh Melinda ia baringkan. Ia amat bernafsu sekali melihat belahan vagina Melinda yang tertutup oleh sedikit bulu halus.

Pak Irfanpun lalu membuka baju dan cdnya, hingga mereka sama-sama bugil diatas ranjang itu. Penis Irfan amat panjang dan besar. Melinda saat itu tidak tahu apa-apa lagi.

Pak Irfanpun lalu membuka kedua kaki Melinda dan mengarahkan penisnya kebelahan vagina Melinda.

Beberapa kali meleset, hingga dengan hati-hati ia angkat kedua kaki Melinda yang panjang itu kebahunya, dan barulah ia bisa memasukan kepala penisnya.

“Aduhhhhhh pak.. aughhhhghhhhh… ghhh… sakit pak…” jerit Melinda.

Pak Irfan lalu menarik penisnya kembali. Lalu dengan mulutnya ia beri air ludah ke pinggiran lobang vagina itu biar lancar. Kemudian ia ulangi memasukan penisnya. Dengan hati2 ia dorong masuk dan kepala penis masuk…

“Auuuuuggggkkkk…” jerit Melinda.
“Sebentar bu…” kata Pak Irfan.
“Nanti juga hilang sakitnya buk…” terangnya lagi.

Sekali hentak maka seluruh penisnya masuk dan ia maju mundurkan. Padahal saat itu Melinda merasa dilolosi tulangnya. ia gigit bibir bawahnya menahan rasa nyilu dan sakit saat penetrasi tadi.Pak Irfan telah berhasil merobek selaput dara Melinda, hingga kelihatan tetesan darah di paha mulus Melinda saat itu dan membasahi sprey yang kusut.

Tangan pak Irfanpun terus memilin payudara Melinda dan kembali menahan pinggul Melinda. Lebih kurang 20 menit ia maju mundurkan penisnya kedalam vagina Melinda sedang Melinda telah 2 kali orgasme, barulah ia muntahkan spermanya didalam rahim Melinda. lalu ia tetap diam diatas tubuh Melinda.

Terlihat ketika itu, tubuh putih mulus Melinda berada dibawah tubuh pak Irfan yang masih membelai dada dan menjilat bibir dan lidah Melinda. Kedua tubuh manusia itu penuh keringat. Di sudut mata Melinda ada air mata karena keperawanannya telah hilang bukan karena tunangannya tapi oleh laki-laki tua itu.

Ia tidak punya pilihan lain karena telah terlanjur di setubuhi Pak Irfan. Hingga menjelang pagi pak Irfan kembali mengulang permainan sex itu dengan Melinda, hingga Melinda merasakan kenikmatan dan mengetahui rahasia dalam permaianan dewasa. Iqbal tidak ia ingat lagi dan saat itu ia terbelenggu oleh gairah dan nafsu yang di berikan pak Irfan.

Sejak saat itu, hub kedua insan yang berbeda umur sangat jauh itu terus berlangsung di rumah itu , kadang-kadang di gubuk milik pak Irfan di tengah hutan daerah itu. Melinda merasa heran karena laki-laki seumur pak Irfan masih memiliki stamina yang prima dalam berhubungan. Tidak heran jika pak Irfan memiliki 3 orang istri dan memiliki 3 orang anak yang telah dewasa.

Irfanpun bermaksud untuk menjadikan Melinda istrinya yang ke 4 karena ia amat bangga bisa memerawani seorang Dokter dari kota dan cantik. Untuk itulah ia terus berusaha menyetubuhi Melinda hingga bisa hamil oleh bibitnya. Melindapun sulit melepaskan diri dari pak Irfan. Ia sedang berpikir untuk membatalkan pertunangan dengan Iqbal, karena bagaimanapun ia sudah tidak perawan lagi.

THE END

Bermula Kenikmatan Dari Seorang Janda Yang Tak Sengaja Ketemu Dijalan

Bermula Kenikmatan Dari Seorang Janda Yang Tak Sengaja Ketemu Dijalan
MESUM.online - Suatu sore ketika aku berjalan-jalan di sekitar Pasar Ramayana ada seorang wanita mendahuluiku berjalan tergesa-gesa. Isengku timbul, sambil kususul kupanggil dia dari belakang.

“Da, Ida!” Dia menoleh ke belakang tersenyum dan memperhatikanku.
“Siapa ya?” tanyanya.
“Maaf, maaf kukira temanku,” sahutku,
“Kebetulan dia bernama Ida”. “Mau ke mana sih?” tanyaku sambil kuulurkan tangan mengajak berkenalan.
“Saya Anto”. “Ida, Farida” jawabnya sambil menyambut tanganku.
“Sebenarnya saya mau nonton di Ramayana Theatre, tapi sudah terlambat lagipula filmya nggak bagus”, sambungnya lagi.

“Sekarang mau kemana lagi” pancingku. “Nggak ada, mau pulang aja” jawabnya. “Jalan yuk ke Sukasari”. “Mau ngapain?” “Jalan aja, kalau ada film bagus kita nonton di sana aja”. “Ayolah, kebetulan aku juga nggak ada acara, daripada bengong di rumah”.

Sambil ngobrol akhirnya kuketahui bahwa Ida bekerja di sebuah showroom mobil di Jakarta. Ia janda cerai beranak satu. Sudah dua tahun ia men janda. Umurnya lima tahun di atasku. Tinggal di daerah Warung Jambu, kost dengan beberapa temannya.

Perawakannya sedang, tinggi 160 cm dengan badan yang agak kurus dan dada kecil. Wajahnya lumayan, kalau dinilai dapat angka tujuh. Kacamata minus satu nongkrong di hidungnya.

Sampai di Sukasari Theatre ternyata film sudah diputar setengah jam.

“Sekarang bagaimana?” tanyaku.
“Terserah kamu saja”. Kuajak dia jalan mutar-mutar di Matahari lihat-lihat baju dan kosmetik.

Akhirnya dia ngajak minum jamu di kedai dekat jalan. Tiba-tiba saja dia menggandeng lenganku berjalan ke kedai jamu tersebut.

“Mau minum sari rapet?” godaku.
“Nggak ah, saya biasanya minum sehat wanita saja”. Akhirnya dia pesan jamu sehat wanita dan aku minum sehat lelaki.

Setelah minum jamu duduk-duduk sebentar di sana dan kami kembali ke Sukasari Theatre. Tak berapa lama loket buka.

“Jadi nonton?” tanyaku, “Tentu saja jadi, buat apa nunggu lama-lama di sini?”. Aku ke loket beli tiket.

Dan kembali duduk di sampingnya di lobby. Suasana kelihatan sepi, hanya ada beberapa orang saja yang duduk-duduk di lobby. Sukasari Theatre memang bukan bioskop favorit di Bogor. Kalah sama Sartika 21 yang baru dibuka.

Akhirnya kami masuk ke dalam bioskop, kemudian film mulai diputar. Beberapa lama kemudian tangannya menyusup ke lenganku. Aku diam saja. Ida janda semakin merapat. Aku berpaling dan menatap wajahnya. Ia tersenyum dan membuka mulutnya sedikit. Tampak giginya yang berderet rapi. Ia menyorongkan mukanya ke arahku dan mencium pipiku. Aku sedikit kaget atas tindakannya. Aku melepaskan tangannya dari lengan kiriku, lalu kulingkarkan ke bahu kirinya.

Muka kami berdekatan. Kutatap lagi wajahnya dan perlahan-lahan muka kami saling mendekat. Matanya agak terpejam dan mulutnya terbuka. Kukecup bibirnya pelan dan lama-lama menjadi ciuman yang dalam. Kacamatanya menghalangi aksiku, kuminta dia melepas kacamatanya. Kuremas dada sebelah kirinya dari luar baju dengan tangan kiriku. Ia menolak dan menepiskan tanganku, tetapi dibiarkan tanganku memeluk bahunya.

Praktis kami nggak konsentrasi lagi ke cerita film yang sedang diputar. Sepanjang pemutaran film itu kami saling merapat dan berciuman. Kadang-kadang lidah kami saling mendesak ke dalam rongga mulut, bergantian kadang lidahnya menggelitik rongga mulutku, kadang lidahku yang masuk ke dalam mulutnya. Ia mendesah menahan dorongan nafsunya yang tertahan sekian lama. Film habis, kami keluar dan berjalan mencari angkutan.

“Kalau sudah malam begini dari sini susah cari angkutan ke rumahku ” katanya.
“Jadi bagaimana?”
“Kita coba saja ke Ramayana, nanti disambung lagi”. Akhirnya kami dapat angkutan, tetapi hanya sampai Pajajaran saja.

Kami turun di depan pintu Kebun Raya yang di Pajajaran. Kami menungu lagi di situ.

“Jam segini nggak ada lagi angkutan ke Warung Jambu kali ya?” tanyaku.
“Kelihatannya sih nggak ada lagi. Kita cari penginapan saja yuk, saya pernah nginap rame-rame dengan teman-teman di satu penginapan. Agak murah, tapi saya lupa tempatnya”.

Sekilas terpikir olehku Wisma T dekat Pasar Kebon Kembang. “Benar nih mau nginap? Saya tahu ada penginapan yang bersih dan murah”. Setelah lima belas menit menunggu ada mobil omprengan plat hitam berhenti di depan kami.

“Kemana Pak? Mari saya antar” tanya sopir sambil membuka kaca jendelanya. Kami naik dan minta diantar ke Wisma T.

Sampai di sana ternyata hanya ada kamar standar double bed. Setelah menyelesaikan bill, kami berdua masuk ke kamar. Di dalam kamar kami rapatkan dua bed yang ada. Karena agak gerah kubuka kausku. Ida janda hanya memandang dan tersenyum saja. Kami berbaring berdampingan di bed masing-masing.

“Boss-nya yang punya showroom orang mana sih?”
“Keturunan Arab” Jawabnya.
“Asyik dong pasti gede punya barangnya. Kamu sering diajak sama boss dong “.
“Nggak pernah kok”. Entah dia berbohong atau benar.
“Terus kalau tiba-tiba kepengen gimana?” Ida hanya diam saja. Ida bangun dan kulihat dia membuka celana panjangnya. “Eh ngapain dibuka?” kataku terkejut.

Ida hanya tersenyum saja. Ternyata dia mengenakan celana pendek santai sebatas lutut di dalamnya. Kembali Ida berbaring di bednya. Karena kedua bed sengaja kami susun berhimpitan, tanganku bisa menjangkau tubuhnya dan kurengkuh mendekat tubuhku.

Kembali kami berciuman. Mula-mula hanya kukecup bibirnya saja dengan lembut. Ida janda membalas lembut dan lama kelamaan mulai menjadi liar. Tangannya memainkan bulu dadaku.

Beberapa menit kami saling berciuman dengan dengus napas yang berat. Kutindih dia sambil berciuman. Meriamku di bawah mulai bangkit. Ida merapatkan selangkangannya pada selangkanganku. Mulutku turun ke atas dadanya dan kucoba membuka kancing blouse nya dengan bibirku dan gigiku.

“Sebentar, aku buka dulu bajuku ya,” Katanya sambil membuka kancing bajunya satu persatu.
“Jangan, nggak usah dibuka” kataku sambil menahan tangannya.
“Nggak apa-apa kok. Kamu mau kan”. Katanya mendesah.

Ia terus membuka baju dan celana pendeknya. Kemudian tangannya membuka ikat pinggangku dan akhirnya menarik ritsluiting dan kemudian dengan perlahan ia menarik celanaku ke bawah. Kini kami hanya mengenakan pakaian dalam saja.

“Kamu sering mengajak perempuan untuk begini ya?” tanyanya.
“Ah nggak, aku belum pernah kok berhubungan dengan wanita” kataku berbohong. Aku memang sudah beberapa kali berhubungan dengan wanita.

“Nggak percaya, kelihatannya kamu lihai sekali dalam bercumbu tadi”.
“Kalau sebatas ciuman emang sih, tapi untuk lebih jauh lagi belum pernah. Paling hanya nonton film dan baca cerita saja”

“Jadi kamu masih perjaka?” ia meyakinkan lagi.
“Emangnya kenapa?”
“Eehhngng..” Ia mendesah ketika lehernya kujilati.

Ida janda menindihku dan tangannya kebelakang punggungnya membuka pengait bra-nya. Kini terbukalah dadanya di hadapanku. Buah dadanya tidak besar, hanya pas setangkupan jariku. Terasa sudah agak kendor. Ida mendorong lidahnya masuk jauh ke dalam rongga mulutku. Lidahnya liar memainkan lidahku.

Aku hanya pasif saja, sesekali membalas mendorong lidahnya. Tanganku memilin puting serta meremas payudaranya. Ida menggeserkan tubuhnya ke bagian atas tubuhku sehingga payudaranya pas di depan mulutku. Segera kuterkam payudaranya dengan mulutku. Putingnya kuisap pelan dan kugigit kecil.

“Aaacchh, teruskan Anto.. Teruskan”. Ia mulai mengerang dan meracau, punggungnya melengkung ke belakang.

Meriamku semakin keras. Ida semakin merapatkan selangkangannya pada selangkanganku, sehingga kadang terasa agak sakit jika dia terlalu keras menindihku. Puting dan payudaranya semakin kencang dan keras.

Kukulum payudaranya sehingga semuanya masuk ke dalam mulutku, sambil putingnya terus kumainkan dengan lidahku. Dadanya terlihat memerah dan menjadi lebih gelap dibanding bagian tubuh lainnya pertanda nafsunya mulai terbakar. Napasnya tersengal-sengal.

Tangan Ida janda bergerak ke bawah menyelusup di balik celana dalamku, meremas, mengocok dan menggoyang-goyangkan senjataku. Akhirnya dia menarik celana dalamku sampai ke lutut dan dengan bantuan jari kakinya ia melepaskannya ke bawah. Kini aku dalam keadaan telanjang bulat.

Ida menggeserkan mulutnya ke arah bawah, menjilati leher dan menggigit kecil daun telingaku. Hembusan napasnya terasa kuat menerpa tubuhku. Dia mulai menjilati putingku. Aku terangsang hebat sekali sehingga harus menggeleng-gelengkan kepalaku untuk menahan rangsangan ini.

Kupeluk pinggangnya erat-erat. Tangannya kemudian membuka celana dalamnya sendiri. Kini tangan kiriku leluasa bermain di antara selangkangannya. Rambut kemaluannya tidak begitu lebat dan pendek-pendek. Dengan jari telunjuk dan jari manis kubuka labia mayora dan labia minoranya.

Jari tengahku menekan bagian atas organ kewanitaannya dan mengusap bagian yang menonjol seperti kacang tanah. Setiap aku mengusap kelentitnya Ida menggigit kuat dadaku dan mengerang tertahan.

“Aaauhh.. Ngngnggnghhk”

Mulutnya bergerak semakin ke bawah, bermain-main dengan bulu dada dan perutku, terus semakin ke bawah, menjilati bagian dalam lutut dan pahaku. Sendi-sendi kakiku terasa mau lepas. Tangannya masih bermain-main di kejantananku. Kini mulutnya mulai menjilati kantung penisku. Tanganku meremas-remas rambutnya untuk mengimbanginya.

Aku pikir dia mau meng-oral, tetapi ternyata tidak, dia hanya sampai pada kantung penis saja. Aku hanya menunggu dan mengimbangi gerakannya saja, seolah-olah aku belum pernah melakukan hal ini. Kembali Ida janda bergerak ke atas, tangan kirinya memegang dan mengusap kejantananku yang telah berdiri mengeras.

Ia dalam posisi jongkok di atas selangkanganku. Perlahan lahan ia menurunkan pantatnya sambil memutar-mutarkannya. Agak susah dia kelihatannya berusaha memasukkan kejantananku ke liang vaginanya. Mungkin benar juga setelah men janda dia tidak pernah merasakan lagi nikmatnya berhubungan badan.

Penisku memang lebih besar di bagian ujung daripada pangkalnya. Kepala kejantananku dijepit dengan kedua jarinya, digesek-gesekkan di mulut vaginanya. Terasa hangat dan lembab, lama-lama seperti berair. Dia mencoba lagi untuk memasukkan kejantananku. Kali ini.. Blleessh.. Usahanya berhasil. “Ouhh.. Ida ouhh” kini aku yang setengah berteriak.

Ida bergerak naik turun dalam posisi setengah jongkok. Mula-mula perlahan-lahan dia menggerakkannya, karena memang terasa masih agak kesat dan kering. Aku mengimbanginya dengan memutar pinggulku dan meremas payudaranya.

Kepalanya mendongak ke atas dan bergerak ke kanan kiri. Kedua tangannya bertumpu pada pahaku. Ketika lendirnya sudah membasahi organnya Ida mempercepat gerakannya, kadang-kadang dibuatnya tinggal kepala penisku saja yang menyentuh mulut vaginanya. Ida menghentikan gerakannya, merebahkan tubuhnya di atasku dan kini terasa otot vaginanya meremas penisku.

Terasa nikmat sekali. Aku mengimbanginya, ketika dia relaksasi aku yang mengencangkan otot perutku seolah-olah menahan kencing. Demikian bergantian kami saling meremas dengan otot kemaluan kami. Beberapa saat kami dalam posisi itu tanpa menggerakkan tubuh, hanya otot kemaluan saja yang bekerja sambil saling berciuman dan memagut tubuh kami. “Anto, .. Nikmat sekali .. Ooouuhh” desisnya sambil menciumi leherku.

Ida janda berguling ke samping, kini dalam posisi menyamping aku yang bergerak maju mundur menyodokkan kejantananku ke dalam vaginanya. Dalam posisi ini gerakanku menjadi kurang nyaman dan kurang bebas. Kugulingkan lagi tubuhnya, kini aku yang berada di atas.

Kuatur gerakanku dengan ritme pelan namun dalam sampai kurasakan kepala penisku menyentuh mulut rahimnya. Kuangkat penisku sampai keluar dari vaginanya dan kumasukkan lagi dengan pelan, demikian berulang-ulang. Ketika penisku menyentuh rahimnya Ida mengangkat pantatnya sehingga tubuh kami merapat.

“Lebih cepat lagi, oohh.. Aku mau keluar aacchhkk..” Ida memeluk punggungku lebih erat. Betisnya membelit pinggangku, matanya setengah terpejam, kepalanya terangkat sehingga seolah-olah tubuhnya menggantung di tubuhku.

Kuubah ritmeku, kugerakkan dengan pelan namun hanya ujung penisku saja yang masuk beberapa kali kemudian sekali kutusukkan dengan cepat sampai seluruh batang terbenam. Matanya semakin sayu dan gerakannya semakin liar. Aku mendadak menghentikan gerakanku. Payudaranya sebelah kuremas dan sebelah lagi kukulum dalam-dalam. Tubuh Ida janda bergetar seperti menangis.

“Ayo jangan berhenti, teruskan.. Teruskan lagi” pintanya.

Aku tahu wanita ini hampir mencapai puncaknya. Kugerakkan lagi tubuhku. Kali ini dengan ritme yang cepat dan dalam. Semakin lama semakin cepat. Terdengar bunyi seperti kaki diangkat dari dalam lumpur ketika penisku kunaikturunkan dengan cepat.

“Ayolah Anto, aku mau sampai “. Gerakan pantatku semakin cepat dan akhirnya
“Sekarang.. Anto.. Sekarang.. Yeeah!!”

Kurasakan tubuhnya menegang, vaginanya berdenyut dengan cepat, napasnya tersengal dan tangannya meremas rambutku. Kukencangkan otot perutku dan kutahan, terasa ada aliran lahar yang mau meledak.

Aku berhenti sejenak dalam posisi kepala penis saja yang masuk dalam vaginanya, kemudian kuhempaskan dalam-dalam. Serr.. Seerr beberapa kali laharku muncrat di dalam vaginanya. Ida hendak berteriak untuk menyalurkan rasa kepuasannya, namun sebelum keluar suaranya kusumbat mulutnya dengan bibirku.

“MMmmhh.. Achh” pantatnya diangkat menyambut hunjamanku dan tubuhnya bergetar, pelukan tangan dan jepitan kakinya semakin erat sampai aku merasa kesulitan bernafas, denyutan di dalam vaginanya terasa kuat sekali meremas kejantananku.

Setelah satu menit denyutannya masih terasa sampai penisku terasa ngilu. Ketika penisku mau kucabut dia menahan tubuhku.

“Jangan dicabut dulu, biarkan saja di dalam. Ouhh kamu hebat sekali Anto. Terima kasih kamu telah memuaskanku” Ida mengecup bibirku.

Kubiarkan dia memelukku sampai penisku mengecil dan akhirnya keluar sendiri dari vaginanya. Malam itu dalam waktu kurang lebih tujuh jam kami bertempur sampai enam ronde. Paginya dia memelukku dan berkata,

“Aku mau lagi di lain hari”.
“Ah kamu nakal, perjakaku kamu ambil”.
“Kamu yang nakal, kamu yang mulai”. Kupeluk dia dan kuangkat ke kamar mandi untuk mandi dan membersihkan diri..

Akhirnya kuantar dia pulang dan aku berjanji untuk datang lagi ke rumahnya. Ternyata dia tinggal serumah dengan beberapa teman-temannya. Semuanya wanita, sebagian janda dan sebagian lagi masih gadis. Mereka masing-masing punya pekerjaan tetap. ohh nikmatnya ngentot janda.

Kepuasan Yang Kuberi Pada Kakak Iparku

Kepuasan Yang Kuberi Pada Kakak Iparku
MESUM.online - Suatu hari rumahku kedatangan tamu dari Padang. Uni Tati kakak tertua istriku. Dia datang ke Jakarta karena tugas kantor ikut seminar di kantor pusat sebuah bank pemerintah. Uni adalah kepala cabang di Padang, Uni menginap dirumah kami. Dari pada menginap di hotel, mendingan juga uang hotel disimpan buat beli oleh-oleh.

Selama seminggu dia tinggal dirumahku. Dari istriku kutau kalau Uni Tati berusia 40 tahun. Suaminya sudah meningal 2 tahun lalu karena kecelakaan. Orangnya cantik, putih, tinggi semampai. Lebih tepatnya kubilang anggun karena orangnya cenderung diam dan sangat religius.

Selama di Jakarta, setiap ada kesempatan aku dan istriku mengajak Uni jalan-jalan, maklum ini kunjungan pertamanya ke Jakarta, biasanya ke mal karena waktunya sempit. Kami sudah berencana pas hari Sabtu akan jalan-jalan ke Taman Safari

Tiba hari Sabtu, istriku ternyata punya tugas mendadak dari kantor yaitu harus mengawasi pameran di Mangga Dua. Gagal deh rencana jalan-jalan ke Taman Safari. Istriku mengusulkan agar aku tetap mengantar Uni jalan-jalan misalkan ke Ancol saja dan pulangnya bisa jemput istriku di Mangga Dua. Sebetulnya aku agak males kalo nggak ada istriku. Aku merasa risih harus jalan berdua Uni karena orangnya pendiam. Akupun menduga Uni pasti nggak mau. Tapi tanpa dinyata ternyata Uni menyetujui usul istriku. cerita janda.

Pagi-pagi banget istriku sudah berangkat naik KRL dari stasiun Pondok Ranji. Rumahku yang didaerah Bintaro cukup jauh dari Mangga Dua dan Ancol. Sementara menunggu Uni yang lagi jalan-jalan pagi aku sendirian dirumah menyeruput kopi dan merokok. Kami berencana jalan jam 10 pagi.

Sehabis ngopi dan merokok, aku kembali tidur-tiduran di kamarku menunggu jam. Pikiranku melayang membayangkan kakak istriku ini. Uni Tati sangat menarik perhatianku secara sexual. Jeleknya aku, mulia keluar. Aku tertantang menaklukkan wanita baik-baik, aku tertantang menaklukkan Uni. Mumpung ada kesempatan. Dasar setan selalu mencari kesempatan menggoda.

Kuatur jebakan untuk memancing Uni. Aku buru-buru mandi membasuh badan dan keramas. Dengan berlilit handuk aku menunggu kepulangan Uni dari olahraga paginya. Sekitar 10 menit aku menunggu dibalik horden dan kulihat Uni memasuki pagar depan dengan pintu besi yang agak berderit.

Sengaja pintu rumah aku tutup tapi dibiarkan tak terkunci. Aku berlalu menuju kamarku dan segera memasang jebakan untuk mengejutkan Uni. Aku masuk kamarku dan segera bertelanjang bulat. Pintu kamar kubuka lebar-lebar, jendela kamar juga kubuka biar isi kamar mendapat penerangan jelas. cerita janda.

Kudengar pintu depan berbunyi seperti ditutup. Akupun mulai beraksi. Dengan bertelanjang bulat aku menunggu Uni melewati kamarku dengan harapan dia melihat tubuh dan juniorku yang sedari tadi berdiri tegak membayangkan petualangan ini.

Handuk kututupkan ke kepala seolah-olah sedang mengeringkan rambut yang basah sehabis keramas. Aku berpura-pura tidak melihat dan tidak menyadari kehadiran Uni. Dari bakik handuk yang kusibak sedikit, kulihat sepasang sepatu kets melintas kamarku. Aku yakin Uni pasti melihat tubuhku yang polos dengan junior yang tegak berdiri.

Nafsuku semakin menggeliat ketika kuamati dari balik handuk sepasang sepatu yang tadinya hampir melewati kamarku kini seperti terpaku berhenti didepan kamar tanpa beranjak. Aku semakin aktif menggosok-gosok rambutku dan berpura-pura tak tau kalo ada orang. Beberapa detik aku berbuat begitu dan aku merencanakan sensasi berikut. cerita janda.

Dengan tiba-tiba kuturunkan handuk dan menengok ke arah pintu kamar. Aku pura-pura kaget menyadari ada orang. “E..eee…maaf Uni, aku kira nggak ada orang,” kataku seraya mendekati pintu seolah-olah ingin menutup pintu. Aku tidak berusaha menutup kemaluanku yang menantang. Malah kubiarkan Uni terdiam memandangi tubuhku yang polos mendekat kearahnya.

Dengan tenagnya seolah aku berpakaian lengkap kudekati Uni dan sekali lagi memohon maaf.

“Maaf ya Uni, aku terbiasa seperti ini. Aku nggak sadar kalau ada tamu dirumah ini,” kataku sambil berdiri didepan pintu mau menutup daun pintu.

Tiba-tiba seperti tersadar Uni bergegas meninggalkanku sambil berkata “i…i…iya , tidak apa-apa…..”. Dia langsung masuk ke kamar belakang yang diperuntukkan kepadanya selama tingal dirumahku. Aku kemudian memakai celana pendek tanpa CD dan mengenakan kaos oblong lantas mengetok pintu kamar Uni.

“Ada apa Andy,” ujar Uni setelah membuka pintu. Kulihat dia tidak berani menatapku. Mungkin malu. Membaca situasi seperti itu, aku tidak menyiakan kesempatan. “Uni, maafkan Andy ya…aku lupa kalau ada tamu dirumah ini,” kataku merangkai obrolan biar nyambung. cerita janda.

“Nggap apa-apa, cuma Uni malu hati, sungguh Uni malu melihat kamu telanjang tadi,” balasnya tanpa mau menatap aku. “Kenapa musti malu? Kan nggak sengaja, apa lagi Uni kan sudah pernah menikah jadi sudah biasa melihat yang tegak-tegak seperti itu,” kataku memancing reaksinya.

“Sejujurnya Uni tadi kaget setengah mati melihat kamu begitu. Yang Uni malu, tanpa sadar Uni terpaku didepan kamarmu. Jujur aja Uni sudah lama tidak melihat seperti itu jadi Uni seperti terpana,” katanya sambil berlari ketempat tidurnya dan mulai sesenggukan. Aku jadi nggak tega. Kudekati Uni dan kuberanikan memegang pundaknya seraya menenangkannya.

“Sudalah nggak usah malu, kan cuma kita berdua yang tau.” Melihat reaksinya yang diam saja, aku mulai berani duduk disampingnya dan merangkul pundaknya. Kuusap-usap rambutnya agak lama tanpa berkata apa-apa. Ketika kurasa sudah agak tenang kusarankan untuk mandi aja.

Kutuntun tangannya dan sekonyong-konyong setan mendorongku untuk memeluk saat Uni sudah berdiri didepanku. Lama kupeluk erat, Uni diam saja. Mukanya diselusupkan didadaku. Payudaranya yang masih kencang serasa menempel didadaku. Sangat terasa debar jantungnya. Perlahan tangaku kuselusupkan ke balik kaos bagian belakang berbarengan dengan ciumanku yang mendarat dibibirnya. cerita janda.

“Jangan Ndy…dosa,” katanya sambil melepaskan diri dari pelukanku. Namun pelukanku tidak mau melepaskan tubuh sintal yang sedang didekapnya. Dan usaha kedua Uni sudah menyerah. Bibirnya dibiarkan kulumat walau masih tanpa perlawanan. Kucoba lagi menyelusupkan tangan dibalik kaosnya, kali ini bagian depan. Tangan kanan yang menggerayang langsung pada sasaran…putting susu sebelah kiri. Uni menggeliat.

Pilinan jariku di payudaranya membuat nafsunya naik. Aku tau dari desiran nafasnya yang mulai memburu. Aku heran juga dengan wanita ini, tetap diam tanpa perlawanan. Mungkin ini style wanita baik-baik. Bagusnya, semua apa yang kulakukan tidak ada penolakan. Seperti dicocok hidungnya Uni menurut saja dengan apa yang kulakukan terhadapnya.

Perlahan kubuka kaosnya, kubukan celana panjang trainings pack-nya, kubuka Bh nya, kubuka CD-nya , Uni diam saja. Kubopong tubuhnya ketempat tidur. Kubuka kaosku, kubuka celana pendekku……..Uni masih diam. cerita janda.

Lidahku mulai bermain disekujur tubuhnya. Dari ujung kepala, turun ke telinga, ke bibir, ke leher…perlahan kusapu dadanya, payudaranya kulumat dengan gigitan kecil…turun lagi kebawah, pusarnya kukorek dengan lidahku….turun lagi ke sekumpulan rambut dan kedua pahanya hujilat-jilat terus sampai keujung jempol kaki. Aku tidak merasa jijik karena tubuh Uni yang putih bersih sangat membangkitkan gairah.

Kukangkangkan kakinya, uni masih diam saja. Tapi kuamati matanya terpejam menikmati sentuhan tiap jengkal ditubuhnya. Baru ketika kudaratkan sapuan lidahku di bibuir vagina dan klitorisnya Uni tiba-tiba berteriak ,” Ahhhhhhhh……..”

“Kenapa Uni….Sakit?,” tanyaku. Uni hanya menggeleng. Dan aktifitas jilat menjilat vagina itu kulanjutkan. Uni menggelinjang dahsyat dan tiba-tiba dia meraung..”Andyyyyyyy… ayo Andy….jangan siksa aku dengan nikmat…ayo Andy tuntaskan….Uni udah nggak tahan,” katanya. cerita janda.

Aku tidak mau berlama-lama. Tanpa banyak variasi lagi langsung kunaiki kedua pahanya dan kutusukkan juniorku kelobah surganya yang sudah basah kuyup. Dengan sekali sentak semua batangku yang panjang melesak kedalam. Agak seret kurasakan, mungkin karena sudah dua tahun nganggur dari aktifitas. Kugenjot pantatku dengan irama tetap, keluar dan masuk. Uni semakin menggelinjang.

Aku pikir nggak usah lama-lama bersensasi, tuntaskan saja. Lain waktu baru lama. Melihat reaksinya pertanda mau orgasme , gerakan pantatku semakin cepat dan kencang. Uni meronta-ronta , menarik segala apa yang bisa ditariknya, bantal, sepre. Tubuhku tak luput dari tarikannya. Semua itu dilakukan dengan lebih banyak diam.

Dan tiba-tiba tubuhnya mengejang, “Ahhhhhhhhhhhhhhhh…….,” lolongan panjangnya menandakan dia mencapai puncak. Aku mempercepat kocokanku diatas tubuhnya. Tiba-tiba aku didikejutkan dengan hentakan tubuhnya dibarengi tanganya yang mendorong tubuhku. “Jangan keluarin didalam ….aku lagi subur,” suaranya tresengal-sengal ditengah gelombang kenikmatan yang belum mereda. cerita janda.

Kekagetanku hilang setelah tau reaksinya. “Baik Uni cantik, Andy keluarin diluar ya,” balasku sambil kembali memasukkan Junior ku yang sempat terlepas dari vaginanya karena dorongan yang cukup keras. Kembali kupompa pinggulku. Aku rasa kali ini Uni agak rileks. Tapi tetap dengan diam tanpa banyak reaksi Uni menerima enjotanku. Hanya wajahnya yang kadang-kadang meringis keenakan.

Dan sampailah saatnya, ketika punyaku terasa mulai berkedut-kedut, cepat-cepat kucabut dari vagina Uni dan kugencet batang juniorku sambil menyemprotkan sperma. Kuhitung ada lima kali juniorku meludah. Sekujur tubuh Uni yang mulus ketumpahan spermaku. Bahkan wajahnyapun belepotan cairan putih kental. Dan aku terkulai lemas penuh kenikmatan. Kulihat Uni bagkit mengambil tisu dan menyeka badan serta mukanya. cerita janda.

“Andy…kamu sudah memberikan apa yang belum pernah Uni rasakan,” kata wanita cantik itu sambil rebahan disampingku.

Dengan persetujuan Uni, kami menelpon istriku mengabarkan kalau batal ke Ancol karena Uni nggak enak badan. Padahal kami melanjutkan skenario cinta yang menyesatkan. Kami masih tiga kali lagi melakukan persetubuhan. Dalam dua sessi berikut sangat kelihatan perkembangan yang terjadi sama Uni.

Kalo permainan pertama dia banyak diam, permainan kedua mulai melawan, permainan ketiga menjadi dominan, permainan keempat menjadi buas….buas…sangat buas. Aku sempat memakai kondom biar bisa dengan leluasa menumpahkan sperma saat punyaku ada didalam vaginanya. cerita janda.

“Aku sadar ini dosa, tapi aku juga menikmati apa yang belum pernah aku rasakan selama bersuami. Suamiku itu adalah pilihan orang tua dan selisih 20 tahun dengan Uni. Sampai Uda meninggal, Uni tidak pernah merasakan kenikmatan sexual seperti ini. Sebetulnya Uni masih kepengen nikah lagi tapi tidak pernah ketemu orang yang tepat. Mungkin posisi Uni sebagai kepala bagian membuat banyak pria menjauh.”

Uni mencium keningku lalu tertidur dengan pulas.

THE END
Copyright © Mesum.Online. All rights reserved. Template by CB